Sunday, May 22, 2016

Let it go! I did!

Posted by Deslani Khairunnisa' at Sunday, May 22, 2016 0 comments Links to this post

"Minggu lalu, ketika kau mengatakan kau akan menyerah, aku tau kau tidak akan bisa!"
"Aku sungguh-sungguh kala itu!"
"Aku tau, kau selalu sungguh-sungguh dengan ucapanmu! Tapi kau tidak akan bisa sungguh-sungguh meninggalkannya! Kepalamu mungkin bersikeras kau akan bisa, tapi hatimu tidak! Aku benar, bukan?"
"Sekarangpun, aku sungguh-sungguh tak ingin peduli lagi dengannya! Tapi......"
"Tapi kau tak bisa!"
"Aku lelah!"
"Kau juga mengatakan hal yang sama minggu lalu!"
"Aku tau! Kau tau, lelah ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu! Sejak aku ratusan kali meminta hal yang sama padanya, tapi tak pernah digubrisnya! Sejak aku puluhan kali berusaha menariknya kejalan yang benar, tapi dia tak bergeming! Dia bahkan merasa terganggu dengan kehadiranku dan mulai mempertanyakan 'siapa aku untuk hidupnya?'"
"Aku tau!"
"Aku lelah! Sakit setiap kali melihatnya kembali jatuh dengan bangga dalam kubangan maksiatnya!"
"............ Apa kau percaya 'tangan Tuhan'?"
"....??"
"Ummm, bahwa ketika kau telah mengusahakan sesuatu, merubah sesuatu kearah kebaikan, melakukan usaha terbaikmu, bahkan kesakitan dan menderita karenanya, namun semuanya tampak tidak membawa hasil, maka itu saatnya untuk menyerahkan hasilnya kepada Tuhan, biarkan Dia bekerja!"
"Aku hanya tak ingin melihatnya menghancurkan hidupnya sendiri! Jika dimasa depan aku mendengar kabar buruk tentangnya, aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri!"
"Aku tau, aku tau!! Tapi kau tidak bisa menyiksa dirimu lebih parah lagi! Dirimu juga punya hak akan dirimu! Sekarang, kau menangis mengkhawatirkannya, tapi dia malah menertawakanmu! Kukatakan, bagianmu sudah lebih dari cukup! Kau tak perlu melakukan apa-apa lagi!"
".............."
"Belajarlah mengikhlaskannya! Tidak semua hal dapat kau lakukan! Kau tidak bisa menghapus segala kekecewaan dan kehancuran didunia ini! Kau tidak bisa membuat semua penduduk bumi masuk surga lalu mengosongkan neraka! Ikhlaskan! Dan berdamailah dengan dirimu sendiri! Ada hal-hal diluar kuasamu, diluar jangkauanmu! Yang bisa kau lakukan sekarang hanya berharap dan berdo'a, semoga Tuhan memberinya hidayah!"
"Aku ingin, tapi kau tau......."
"Aku tau! Kau ingin lepas, tapi pada dasarnya kau tidak berusaha melepaskan diri!"
"Maksudmu?"
"Kau tau, kau adalah orang dengan ego paling besar yang pernah kukenal!
"Kau bilang apa?"
"Egomu besar! Kau tidak bisa menerima kata kalah. Bukan! Kau tidak bisa menerima kata tidak menang. Kau melatih dirimu mendapatkan apa yang ingin kau dapatkan, merubah apa yang ingin kau rubah! Tapi kau lupa, tidak semua hal bisa kau lakukan! Tidak semua bisa kau rubah!"
"Yaakkk!!"
"Maka berdamailah dengan dirimu sendiri! Kau manusia, bukan dewa! Ikhlaskan apa yang tidak bisa kau dapatkan, berdamailah dengan jalanmu!"
"Aku,, aku sekeras itu?"
"Ya... Kumohon, lepaskanlah! Tidak ada yang memintamu memikul beban sebegini berat, kenapa kau menyiksa dirimu sendiri?"
"Aku, tidak......"
"Ya! Kau melakukannya!"
"..................."
"Kumohon hentikanlah! Lepaskan bebanmu! Lalu tunaikan hakmu pada dirimu!"
".......?"
"Tersenyumlah yang banyak! Tertawalah yang banyak! Berbahagialah!"
"Maksudmu, sekarang aku tidak bahagia?"
"Ckckk,,, ya ya yaa... Kau bahagia! Sangat bahagia! Ckk, perhatikan dirimu, jilbab acak-acakan, mata sembab, tampang dekil, dan itu, kapan terakhir kau mencuci muka?"
"Apa aku semenyedihkan itu?"
"Ohoh! Aku bahkan belum menyebutkan kantung mata, kuku panjang, insomnia, parasomnia, berat ba......"
"Arasso, arattagoo..."

Home, 21.01.16


Thanks for someone out there for saying 'kau tidak bisa membuat semua penduduk bumi masuk surga lalu mengosongkan neraka'. I see! I'll try to get it off my mind, but please make sure to keep staying there to remind me (in case I fall again)...

Menyerahlah,,,, Bebaskan dirimu!

Posted by Deslani Khairunnisa' at Sunday, May 22, 2016 0 comments Links to this post
Sesuatu pasti telah terjadi, punggungnya bergetar. Aku mendekat, memastikan keadaannya, namun dia mendadak membalikkan badan - kearahku - membuatku menghentikan langkah, yang hanya tinggal tiga langkah dari tempatnya.
"Bisakah kau memelukku?" tanyanya setelah diam sejenak, mungkin terkejut dengan keberadaanku dihadapannya. Airmata tergenang dikedua kelopak matanya.
Aku menghela napas dalam dan berat, seperti biasa, dadaku mendadak sempit melihatnya begini. "Kemarilah!" balasku sambil mendekat.

"Aku tak akan memintamu berhenti, karena kau tak akan melakukannya!  Tapi kumohon......"
"Tidak! Kali ini aku akan berhenti! Benar-benar berhenti!" dia menganggukkan kepala, meyakinkan dirinya sendiri, sementara airmatanya kembali menggenang.
"Sudahlah! Kau tak perlu memaksakan diri begitu! Aku tau seberapa pentingnya dia untukmu, dan kau tak akan bisa berhenti berjuang untuknya!" Aku sudah sangat hapal drama hidupnya. Berkorban, tak dianggap, bersedih hati, berkorban lebih banyak lagi untuk kemudian kembali tidak dihargai. Bersedih hati lagi. Selalu pola yang sama. Terulang sepanjang waktu selama beberapa tahun terakhir.
"Kali ini aku sungguh-sungguh!" suaranya tercekat, genangan dimatanya hampir tumpah. See? Dia tak akan mampu. "Aku,,,, aku,,, sudah sangat lelah!" genangan itu mengalir turun, membuat wajahnya kembali basah. Aku menyodorkan tisu. "A,,, a,, ku lelah!" ujarnya disela bahu yang berguncang. Lelah? Akhirnya kata ini keluar juga dari mulutnya setelah bertahun-tahun. Biasanya aku yang selalu bertanya 'Apa kau tidak lelah? Hentikanlah!' Dan tentu saja tidak pernah dihiraukannya. "A,, aku,, aku tak sanggup lagi!" tangisnya makin menjadi. Aku tau, dia menangisi kalimatnya barusan - kalimat yang terdengar menyedihkan. Aku membuang muka sambil menghembuskan napas panjang. Kenapa aku harus selalu melihatnya begini? Hancur dan kesakitan? Kubiarkan dia kembali menangis. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menghentikannya, toh tisuku juga sudah habis.

"Apa mataku bengkak?" tanyanya dengan tangan masih sibuk menghapus sisa-sisa tangis diwajahnya.
"Ya!" jawabku jujur.
Dia tersenyum, terlalu dipaksakan. Dia memperbaiki duduknya, menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kali ini aku benar-benar tidak akan peduli lagi. Sungguh! Aku hanya akan memberikan perhatianku untuk mereka yang juga memperhatikanku. Aku hanya akan berjuang untuk mereka yang juga berjuang untukku. Berkorban untuk mereka yang juga berkorban untukku. Sakit untuk mereka yang juga mau sakit untukku! Sungguh!" Kepalanya mengangguk yakin dengan bola mata yang membesar.
"Kau,,, kau yakin?" tanyaku ragu.
"Sudah kuduga kau akan meragukanku. Aku hanya....."
"Maksudku, kau tidak perlu memaksakan diri begitu! Tidak perlu membuat pernyataan apa-apa! Baik kau maupun aku sama-sama tau kelanjutannya!"
"Percaya padaku! Kali ini aku serius! Sungguh! Aku tidak akan menyiksa diriku lagi! Dia hidup dengan kacau, masa depannya hancur, dia mengambil jalan yang salah, aku tak peduli lagi. Kurasa yang kulakukan selama ini sudah lebih dari cukup. Toh pada dasarnya aku tidak punya tanggung jawab atas hidupnya. Dan aku tak perlu berbaik hati lagi mengorbankan kebahagiaanku untuknya!" dia tersenyum.
"Kurasa aku pernah mendengar itu sebelumnya!" ujarku tertawa. Ya, itu kalimatku. Kalimat yang selalu kutujukan padanya setiap kali dia menangis dan disakiti.
"Benarkah? Aku mendapatkannya dari seorang idiot jelek!" dia tertawa. Apa? Tertawa?
Kuamati ekspresinya, mencari kebohongan dan keterpaksaan disana. "Apa kita harus nonton film sedih sekarang?" kurasa dia jujur kali ini.
"Eh??"
"Agar kau bisa menangis sepuasnya!" jawabku mengangkat bahu.
"Ckk..." dia berdecak, berlagak kesal. "Kau pikir aku serapuh itu? Ck... Traktir aku kopi!" perintahnya dengan tangan terlipat didada.
"Kopi? Apa hubungannya?"
"Ckk.. Benar-benar idiot!" Dia berdiri, melangkah menuju jalanan. "Aku harus memastikan, kalau yang pahit itu tidak selalu buruk!"
Aku bangkit untuk menyusulnya. "Kau tak akan menyesali keputusanmu!"



Home, 17.01.16

Run to Me!

Posted by Deslani Khairunnisa' at Sunday, May 22, 2016 0 comments Links to this post

"Maaf tadi aku sedang rapat. Ada apa?"
"Kau masih sibuk?"
"Ti-tidak! Sudah tidak ada pekerjaan lagi. Kau baik-baik saja?" 
"Umm... Kuharap begitu!"
"Oke, kau dimana? Aku kesana sekarang!"
"Ti-tidak usah. Aku tidak apa-apa! Aku tau kau sibuk!"
"Aku sudah bilang sudah tidak ada pekerjaan! Aku bosan disini!"
"Bukannya kemarin kau bilang hari ini akan berat bagimu? Kau bilang akan ada supervisi?"
"Aku bilang begitu? Sepertinya otakku sedang tidak beres kemarin. Sekarang katakan kau dimana?"
"Aku tidak apa-apa! Aku akan menunggu sampai urusanmu selesai!"
"Yaakk! Aku bilang aku akan kesana sekarang. 27 panggilan tak terjawab. Kau pikir aku bodoh percaya bahwa kau baik-baik saja?"
"............."
"Ayolah.. Aku rasa aku ingin curhat! Kau tau hari ini cukup berat! Aku butuh teman!"
"Kau baik-baik saja?"
"Ckkk... Apa kau begitu khawatirnya padaku? Mari bertemu!"
"Aku di tempat biasa!"
"Oke, am on my way!"
"Ingin kupesankan sesuatu?"
"Mmm... Kurasa kopi saja! Aku butuh terjaga untuk mendengarkanmu!" 
"Eh???" 
"Umm,, maksudku,,, untuk bercerita padamu!" 

Kamar kehidupan, April 29th 2015 
Pada akhirnya kopimu benar-benar membuatmu terjaga. Terjaga untuk tiga jam mendengarkan masalah hidupku, tanpa sedikitpun membahas hidupmu.

Jarum jam!!

Posted by Deslani Khairunnisa' at Sunday, May 22, 2016 0 comments Links to this post

"Seperti jarum jam!"
"Ehh!!"
"Ditengah hiruk pikuk siang, kau tidak akan menyadari kalau dia sedang bekerja. Namun ketika malam mulai datang. Ketika jiwa-jiwa lelah beranjak merebahkan diri, kau akan mendengarnya. Berdetak sangat keras-ternyata. Tak kenal lelah. Bahkan disaat kau tidak lagi mendengarnya, karena terlelap dalam tidurmu!"
"Ma-maksudmu?"
"Ada seseorang yang hidup seperti jarum jam. Melakukan banyak hal tanpa kenal lelah untuk seseorang, tapi tak pernah dianggap, tak pernah terdengar! Tapi bukannya berhenti dia malah terus bekerja! Terus dan terus! Terlihat bodoh? Tidak juga! Usahanya mungkin tidak akan membawanya kemana-mana, tapi akan membawa seseorang pada mimpinya! Dia mungkin akan begitu-begitu saja, tapi hidup seseorang akan berubah karenanya! Ya, persis detakan jarum jam! Keren bukan?"
"Aku masih belum mengerti!"
"…................"
"Sebentar, apa menurutmu aku mengenal si jarum jam?"
"Umm... Mungkin kau mengenalnya, tapi mengabaikannya. Tak mampu mendengarnya! Kau tau, duniamu itu terlampau berisik untuk mendengarnya!"
"...................." 

Tuesday, August 04th 2015


Leave it! I should live!

Posted by Deslani Khairunnisa' at Sunday, May 22, 2016 0 comments Links to this post


Bismillah....

“Kau meninggalkannya?”
“Ho-oh!”
“Kau, serius?”
“............. Jangan menatapku seperti itu! Kali ini aku serius! Aku benar-benar meninggalkannya! Tak akan mencoba kembali lagi!”
“........................”
“Ini benar-benar, menyakitkan!”
“............. Aku tak tau harus berkata apa! Tapi, satu hal, bukankah baru kemaren kau mengatakan kau sudah mulai mencintainya? Kau bahkan mengatakan sudah menerimanya sebagai takdirmu – kalau aku tidak salah dengar!”
“Umm.... Inilah lucunya hidup, bukan? Berawal dari pertemuan tak diharapkan, lalu dia menjeratmu, memporak-porandakan hidupmu, kau membencinya, dia menolak melepaskanmu. Kau semakin membencinya, dia semakin mengikatmu. Kau mulai frustasi menghadapinya, lalu kau mulai mencoba melihat sisi baik dalam dirinya, mulai berpikir mungkin dia yang terbaik yang dikirimkan Tuhan, mulai berpikir mungkin dia adalah takdirmu. Kau mulai mempertimbangkannya, dia semakin memperlihatkan sisi baiknya, kau semakin menyukainya, lalu memutuskan menerimanya! Menerimanya dengan segenap hatimu, sampai kau melihat sisi terburuknya – yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, sisi paling kejam dan menyeramkan! Dan kau kembali membencinya – tentu saja – melebihi bencimu sebelumnya! Kau ingin lepas, tapi akan jauh lebih berat, karena dia mulai membawa pengaruh bagi hidupmu. Beginilah hidup mempermainkanmu!”
“Ahh.... Menyedihkan! Tapi belakangan kau tampak benar-benar mencintainya dan kalian tampak benar-benar bahagia bersama!”
“Umm.... Kau benar! Aku mulai menikmati hari-hari bersamanya! Mulai menemukan bahwa dia  tidak seburuk yang aku bayangkan! Tapi itu sebelum aku melihat satu sisi itu! Satu sisi dirinya yang membawaku pada hari terburuk sepanjang usiaku!”
“Aku turut menyesal untuk hari itu!”
 “Haha, terimakasih... Kau mungkin tak akan pernah bisa membayangkan apa yang sudah aku alami di hari itu!”
 “Ya, aku melihatnya! Kau tampak benar-benar menderita! Tapi tidakkah menurutmu mempertimbangkannya sekali lagi akan memberikan hasil berbeda? Maksudku, kau sudah bertahan cukup lama, kau juga sudah berkorban cukup banyak. Ini tidak akan selesai begitu saja, bukan? Kau pantas mendapatkan sesuatu darinya, bukan?”
 “Ya, kau benar! Aku berhak LEPAS darinya!”
 “Bukan itu maksudku. Maksudku, kau............”
 “Aku berhak hidup dengan damai, bukan? Karena itulah aku mengambil keputusan ini. Karena kedamaian hatiku jauh lebih penting dari apapun! Bahwa aku harus memperjuangkannya tak peduli apapun, lagi! Bahwa kedamaian hatiku tidak akan kudapatkan jika terus bersamanya! Aku benar-benar harus melepaskan diri!”
 “Kau terlihat, agak menyeramkan, sekarang!”
 “Hahaha... Bukan begitu. Hanya saja aku harus lebih tegas pada diriku sendiri! Seperti yang kau katakan, aku sudah bertahan cukup lama, berkorban cukup banyak, juga menderita cukup banyak! Karena itu, aku tak boleh lebih menderita lagi! Aku tak bisa berkorban lebih banyak lagi! Sakit ini, hanya karena aku sanggup menanggungnya, bukan berarti aku pantas menerimanya, bukan?”
 “Hhhh...... Hidupmu begitu rumit!”
 “Hahaha, tapi tidak akan lebih rumit lagi! Selalu ada konsekuensi dari setiap langkah yang diambil, bukan? Konsekuensi yang juga tidak akan mudah! Aku tau itu! Tapi kurasa ini akan sepadan dengan kedamaian hidupku dimasa yang akan datang. Aku akan baik-baik saja! Aku akan mengatasinya dengan baik!”
 “Kau yakin dia akan melepaskanmu begitu saja?”
 “Hahaa... Seperti yang kubilang, ini tidak akan mudah. Tapi setidaknya aku harus mencoba. Dan benar-benar harus berjuang mendapatkan yang baru?”
 “Yang baru? Sebentar! Apa kau meninggalkannya karena sudah menemukan yang baru? Kau....”
 “Bukan begitu! Ada yang kusukai sejak lama! Tapi aku terlalu pengecut untuk memperjuangkannya! Membiarkannya lepas begitu saja! Tapi kali ini aku akan sungguh-sungguh mengejarnya, memperjuangkannya dengan seluruh kemampuan yang kupunya – tanpa peduli apapun!”
 “Kau tampak,, lebih,,, hidup!”
“Hahaha,, aku juga merasa begitu! Hidup yang sebenarnya, sekarang aku bisa memulainya, bukan?”

Kamar kehidupan, February 05th 2015 @ 01.47 am
Setelah obrolan panjang dengan seorang sahabat malam ini. Benar-benar terpikir, ‘itulah’ sebabnya. ‘Hari itu’ adalah puncaknya! Hari dimana uda nyaris menamparku karena aku mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam hidupku. Hari itu semacam pencerahan bahwa aku harus meninggalkannya! Ini bukan jalanku! Ini benar-benar sudah diluar batas toleransiku! Namun, jika dikemudian hari kalian melihatku hidup bersamanya, tolong jangan ucapkan ‘selamat’, ‘semoga berbahagia’ atau semacamnya! Jika itu terjadi, percayalah, aku tidak akan sedang berbahagia! Maka pada hari itu kalian harus benar-benar berpikir bagaimana cara melepaskanku darinya. Karena itu berarti aku kembali terjebak, atau dijebak!


I gonna leave,,,, #NulisRandom2015

Posted by Deslani Khairunnisa' at Sunday, May 22, 2016 0 comments Links to this post

Bismillah....

“Sial....” kubanting kacamata yang sudah retak itu ke dinding. Detik berikutnya kudengar suaranya menghantam dinding, lalu jatuh ke lantai. Kuabaikan, bahkan aku tak meliriknya sedikitpun. Ini adalah kacamata ketigaku dalam enam bulan terakhir. Apa-apaan ini? Yang pertama jatuh dari meja kelasku ketikaku menarik ransel dengan buru-buru dan lupa bahwa tasku belum ditutup sempurna. Yang kedua rusak parah ketika kecelakaan beberapa bulan lalu. Aku nyungsep ke jalanan berkerikil dan kacamataku terlempar jauh untuk selanjutnya dilindas mobil. Dan sekarang? Huuuffftt, kuelus lututku yang masih terasa nyeri. Lutut sialan inilah yang menindih kacamataku sampai remuk, beberapa detik lalu.
 “Pecah lagi?” sebuah suara terdengar dibelakangku. Aku hanya menghembuskan napas kesal. Kurapikan meja lipatku sambil bersungut-sungut. Kupungut lembaran sketsa yang berserakan dilantai. Hhh, nggak satupun yang memuaskan. Kuremas lalu kulempar sekuat tenaga ke tong sampah di pojok ruangan – menegaskan aku sedang sangat kesal.
 “Coba! Coba! Ini berapa?” dia jongkok dihadapanku sambil mengacungkan dua jarinya di depan mukaku. Sebuah senyuman jahil menghiasi wajahnya. Aku melotot, kesal. “Yaa, pengen tau aja loe masih bisa lihat apa kagak!” ujarnya dengan nada yang semakin rendah diiringi tangannya yang ditarik kebelakang.
 “Jadi gimana?” tanyanya setelah aku menghempaskan tubuhku ke sofa di tengah ruangan.
 “Apanya?” tanyaku pura-pura tidak paham maksudnya.
 “You know what I meant! Exactly!” jawabnya tegas.
 “Huuufttt.... Kurasa aku akan pergi.” jawabku singkat. Mencoba mengendalikan dadaku yang mendadak sesak.
 “Eh....???” Seperti dugaanku.
 “Tapi sepertinya aku butuh kacamata baru untuk pergi!” kupasang handsfree ditelingaku, menyetel musik sekencang mungkin. Kupejamkan mata, aku tak ingin melihat reaksinya. Dan terlebih, aku tak ingin dia melihat mataku yang memerah. 


May, 2015

Tuesday, April 26, 2016

Am I that stubborn?

Posted by Deslani Khairunnisa' at Tuesday, April 26, 2016 0 comments Links to this post
 Bismillah..

Excited banget menemukan sebuah video yang diposting di wall fb gua beberapa waktu lalu. ‘Kunik the stubborn’, dari judulnya udah bikin gua kehilangan napsu makan. Tapi beneran masih excited. Hehehe…
Makasi deh buat loe yang kurang kerjaan banget ngumpulin foto gua – bahkan gua kaga tau loe nemu beberapa poto dari mana. Dan videonya sumpah keren banget. Hat off for you, bro!
Gag papa kali ya gua posting  videonya disini. Toh palingan yang baca blog gua loe doang. Heee…

video

Gua kasih tepuk tangan deh buat loe... <plok plok plok>

Satu hal, itu aplikasi udah langsung gua uber di playstore. That’s awesome!


Cibubur, April 19th 2016
And thanks for deleting the video from my wall. Kadang loe dengerin gua juga – ternyata. Hahahaa… 

Thursday, February 25, 2016

FALL FOR YOU!! Ottokhe??

Posted by Deslani Khairunnisa' at Thursday, February 25, 2016 3 comments Links to this post

Jangan tersenyum, aku bisa meleleh melihat senyummu.
Jangan tertawa, aku tak sanggup lagi menampung lebih banyak kupu-kupu diperutku.
Jangan menatapku, bisa-bisa aku ditandu karena seluruh persendianku kehilangan kekuatannya.
Jangan bicara padaku, jangan keluarkan suaramu, dadaku sudah seperti festival tujuhbelasan didalam. Jangan buat kerusuhan lebih parah lagi.
Jangan menyapaku, aku bisa mati berdiri sambil terbelalak dihadapanmu.

Diam saja!
Eh diam-pun jangan! Kau terlihat sangat lugu ketika diam. Dan itu bahkan membuatku panas dingin.

Tuesday, August 25, 2015

Kau, aku dan secangkir kopi (lagi).. [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' at Tuesday, August 25, 2015 0 comments Links to this post

Bismillah.....


"Aku tau rasanya!"
"Eh??" 
"Sakitmu itu, aku pernah merasakannya!" 
"........ Maksudmu, karena aku?"
"Wah kau sudah tau rupanya?"
"….........."
"Sudahlah! Percaya padaku, kau bisa mengatasinya!" 
"Apa sesakit ini?"
"Eh?"
"Sakit yang kutimbulkan, apa separah ini?"
"Umm.... Aku tidak tau seberapa parah yang kau rasakan sekarang. Tapi kurasaaaaa, ya, sakitku bahkan terlihat lebih parah!" 

The feeling has gone! Congratulation! [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' at Tuesday, August 25, 2015 3 comments Links to this post

Bismillah...

Jadi seperti ini saja? Seperti ini saja perasaan mempermainkan? Seperti ini saja hati terbolak-balik? Terlalu mudah? Iya! Untuk tetap memilikinya setelah bertahun-tahun, tak peduli sekeras apa usaha untuk menepisnya, tak peduli berapa banyak cara yang sudah dilakukan untuk menghilangkannya, tak pernah berhasil. Dan sekarang hancur lebur begitu saja tanpa disadari. Hancur tanpa bekas. Seperti segenggam debu ditengah padang pasir, diterbangkan angin, mengawang, lalu jatuh ke tanah. Jadi tak berarti, tak bermakna, tak pernah dipertanyakan lagi, apalagi diperhitungkan. Ya, begitu saja! Begitu mudahnya!

Dulu, bisa berjam-jam mempelototi namanya di kontak ponsel. Memikirkan apa yang bisa dijadikan alasan untuk mengiriminya pesan. Lalu membenturkan kepala ke tembok karena tidak ada ide! Ya, dulu begitu!

Monday, August 24, 2015

Kau, aku dan secangkir kopi... [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' at Monday, August 24, 2015 0 comments Links to this post

Bismillah....



“It’s not over yet, huh?” tanyaku sambil memainkan cangkir kopi dihadapanku, yang isinya sudah dingin. Sudah 20 menit dia duduk didepanku, dan satu-satunya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah ‘Aku tidak lapar’ ketika aku menanyakan dia mau makan apa.

“What, what?” dia mengangkat wajahnya, setengah berpikir. Akhirnya aku berhasil menarik perhatiannya. 
“Your dream! Your missions! Or whatever you call it!” 
“.....................” dia menatapku intens. Membuatku berpikir apa aku salah bicara, lagi?
“I meant, can you stop all these crazy things? And start focus on yourself? I meant, your real self? And people around you, maybe?”
“Kau menyuruhku menyerah?”
“Ya!” jawabku tegas. Aku sudah benar-benar muak dengan semua yang terjadi padanya. Semua hal buruk dan keras kepalanya dia untuk tetap mempertahankannya.

For a man who just cracked inside [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' at Monday, August 24, 2015 0 comments Links to this post



Bismillah....


"Gua capek!" ujarnya setelah hening yang panjang. Dia datang bilang mau cerita, tapi sudah belasan menit berlalu dan tidak ada kalimat berarti yang keluar dari mulutnya. Dan kalimat ini adalah kalimat pertamanya sejak aku bertanya 'Loe kenapa?' beberapa menit lalu. Matanya menerawang jauh, terlihat lelah. Aku hanya menatapnya heran. Capek? Sejak kapan kata ini ada dalam kamusnya? "Gua gag boleh bilang capek ya?" tanyanya seolah tau isi otakku. 

"Bukan! Tentu aja boleh, tapi aneh aja....!" 

"Barusan nelfon bokap. Dan seperti biasa, endingnya selalu menjungkirbalikkan emosi gua!"

".........." aku hanya diam. Sangat mengerti hubungannya dengan sang ayah. 

"Loe tau gua orang hebat bukan? Gua kuat! Tangguh! Keras! Tak terkalahkan, bukan? Tapi hari ini gua bener-bener capek! Lelah!"

".........." lagi-lagi aku hanya diam. Aku tau, diam satu-satunya hal terbaik yang bisa kulakukan untuknya.

Sunday, August 23, 2015

Duet Nulis bareng Nyukik.. [Repost from fb]

Posted by Deslani Khairunnisa' at Sunday, August 23, 2015 0 comments Links to this post
Authors: Deslani Khairunnisa’, Rizky Abdillah
Editor: Deslani Khairunnisa’

“Kamu tidak bisa seperti ini terus!” laki-laki itu menatap perempuan didepannya sambil mendengus kesal. Sementara yang ditatap sedang sibuk mengunyah makanannya, entah mendengarkan entah tidak.
“Kau tidak mendengarku?”
“Umm??” perempuan itu mengangkat kepalanya dengan mata lebar, lalu mengerjap beberapa kali. “Kau harus coba ini!” ujarnya cepat sambil menaroh sepotong paru goreng ke sudut piring laki-laki itu – yang bahkan isinya masih utuh.
“Kenapa kau selalu seperti ini?”
“Seperti apa?” acuh tak acuh perempuan itu malah balik bertanya.
“Oke...” laki-laki itu menghela napas panjang sambil memperbaiki posisi duduknya. Dia tau sekeras apa kepala makhluk dihadapannya. Perempuan ini tak bisa dihadapi dengan cara seperti ini. “Ini terakhir kalinya aku mendengar kau tak makan dua hari!”
“Good! Artinya kita akan terus makan bersama!” mata si perempuan berbinar disertai anggukan mantap – seolah dia baru saja menyimpulkan sesuatu dari perdebatan alot.
“Yaaaakkk! Kau belum paham juga? Kau tak bisa terus-terusan seperti ini. Bagaimana mungkin kau tak makan dua hari hanya karena kau tak punya teman makan?”

Just stay there, then.... [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' at Sunday, August 23, 2015 0 comments Links to this post

Bismillah....



“Kau mulai merasakannya?” tanyanya sambil meregangkan tubuhnya. Dia berdiri membelakangiku, sekitar dua meter didepanku.
“Apanya?” tanyaku bingung.
“Ketakutan!” dia berbalik kearahku. “Akan semuanya!”
“Eh?”
“Kau mulai merasakannya, bukan?” dia sudah duduk disampingku.
Aku tercekat.
“Perlukah kita lari?” tanyanya setelah sekian lama. Aku hanya menatapnya bingung. “Kalau terlalu berat, aku bisa membawamu pergi!”
“Tunggu! Apa kau sedang mencoba membuatku menyerah?”
“Hahaa,, See? Kau ketakutan!” dia tertawa tanpa rasa bersalah.

Saturday, August 22, 2015

Missing Home... -_-

Posted by Deslani Khairunnisa' at Saturday, August 22, 2015 0 comments Links to this post

Bismillah...

Mendadak kangen rumah. Ya, sudah delapan hari sejak aku meninggalkan rumah sejak libur lebaran lalu, setelah sebulan lebih menghabiskan waktu dirumah. Ya, ini liburan terpanjang yang kudapatkan sejak tujuh tahun terakhir. Alhamdulillah...

Sekarang ingin sekali rasanya menelfon rumah, tapi kurasa bukan keputusan yang bagus. Biarkan suasananya mereda sejenak. Paling tidak, biarkan aku siap menghadapi mereka!

Kau tau kebohongan yang sering kulakukan? Ya, kebohongan kepada keluargaku. Sudah tidak terhitung jumlahnya. Beberapa tahun lalu aku dan adikku mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan biasa, ini kecelakaan terparah yang pernah kualami yang membuat retak tempurung lututku, yang butuh sebulan untuk penyembuhan, yang bahkan (ternyata) setelah enam bulan aku masih belum bisa berlari dengan benar. Dan orang rumah (ibu dan kakak keduaku) mengetahuinya setelah sekitar dua minggu pasca kecelakaan. Kami tetap berkomunikasi, masih rutin menelfon, sekalipun aku sedang menggigit bantal menahan sakit.
 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea