0

Akhirnya ke kamu juga....

Posted by Deslani Khairunnisa' on Sunday, September 21, 2014 in ,
Bismillahh...

Mestinya kau disini. Melihat diriku sekarang. Kau tau? Banyak perubahan dalam hidupku. Banyak hal terjadi. Banyak hal berhasil kuraih, beberapa hal berat terlewati dengan sempurna. Bukan aku bangga pada diriku – walaupun mungkin itu perlu – tapi hanya benar-benar berharap kau disini. Dulu, kau disini disaat susahku. Saat aku berteriak “Bunuh saja aku!” Waktu itu aku sungguh kekanak-kanakan bukan? Memalukan sekali!

Umm, kau ingat beberapa waktu lalu? Dalam sebuah tulisan aku mengatakan bahwa itu adalah kali terakhir aku menulis tentangmu. Waktu itu aku merasa sedang lebih baik, dan kupikir akan berhasil. Ya, untuk kesekian kalinya, janji pada diri sendiri adalah hal tersulit untuk kutepati. Aku tetap akan menulis tentangmu.

Ayolah, aku bukan sedang bersedih. Hanya butuh teman cerita saja. Apa? Aku tak punya teman? Jangan becanda! Tentu saja aku punya. Beberapa bahkan cukup dekat. Tapi kadang, rasanya kadang mereka terlalu mengintervensi hidupku. Ya, beberapa mulai membentukku menjadi keinginan mereka. Beberapa memarahiku kenapa tidak bisa menjadi pribadi yang mereka inginkan. Beberapa mengamuk ketika aku diam saja – memendam masalahku sendiri, tapi langsung menatapku sinis ketika aku baru mulai membuka mulut – untuk bercerita. Beberapa datang padaku dengan segunung keluhan, dengan ‘aku sedang memikul masalah paling berat di bumi’. Aku menangis dalam hati, masalah mereka tampak sangat berat, mereka bahkan tak sempat menanyakan apa aku punya waktu mendengar cerita mereka, alih-alih bertanya apa aku punya masalah. Beberapa menelponku, bercerita panjang lebar bagaimana mereka menemukan dan menangkap seekor tikus yang memasuki kamarnya. Lalu menutup telfon sejam kemudian tanpa sempat bertanya ‘apa kabarmu teman?’ Lucu bukan? Bukan apa, hanya saja – andai mereka mau sedikit bertanya, meluangkan waktu tiga puluh detik untuk mendengar. Mungkin mereka akan mendengar seorang perempuan muda baru saja selamat dari maut. Baru saja diserang (dan menyerang) maling yang menyusup di garase, dan baru saja menyelesaikan laporannya ke kantor kepolisian sepuluh menit sebelum menerima telfon. Lihat! Sepertinya mereka melewatkan beberapa hal besar, bukan?

Kadang aku merasa jahat, ketika mereka bercerita dengan menggebu-gebu, pikiranku malah melayang-layang. Ya, aku sedang berusaha menahan sesak didadaku, sedang mengatur napasku agar tampak biasa. Aku (terlihat) menyimak dengan khidmat, bersabar menunggu mereka selesai untuk ‘inilah kesempatanku’. Tapi kau tau? Itu hampir tidak pernah terjadi. Aku seperti menunggu kisah cinta Jack dan Rose berakhir bahagia. Semua orang tau itu tak akan terjadi.

Ada yang paham – tentu saja. Mereka bahkan sudah seperti bayanganku saja. Mengetahui semua hal tentangku – maksudku yang aku perbolehkan mereka untuk tahu. Ada juga yang paham bahkan sebelum aku bercerita. Tapi tetap saja, aku ingin bercerita. Tak cukup dengan “Tenangkan dirimu! Aku mengerti perasaanmu!”

Apa aku tampak sangat menyedihkan sekarang? Kalaupun iya, katakanlah tidak. Aku hanya sedang ingin mendengar yang baik saja.

Aku ingat ketika kau menceramahiku tentang teman SMA-ku dulu. “Tentu saja teman harus dipilih! Bagaimana mungkin kau berteman dengan semua orang? Jangan berteman dengan mereka yang akan merubahmu jadi seperti apa yang mereka inginkan. Kau temannya! Bukan bonekanya!” Begitu kira-kira pituahmu ketika itu. Sejak saat itu aku mulai menyeleksi teman-temanku. Dan akan menjauh ketika merasa menjadi boneka.

Oiya, hampir lupa. Beberapa waktu lalu adikmu menghubungiku. Aku heran kenapa dia sering menelponku sekarang. Kau tau, kalian memiliki kesamaan, sama-sama menjengkelkan dan selalu bisa membuatku tertawa sampai menangis. Bagaimana mungkin dia mengatakan aku tidak perlu lagi melamar pekerjaan ke rumah sakit. Aku cukup memfokuskan diri merawat lukaku saja. Jiahh, aku rasa skripsi benar-benar telah mengurangi massa otaknya. Satu lagi, dia memintaku datang ke kontrakannya. Tak usah kaget, aku sudah melakukannya – untukmu sekalian. Bagaimana mungkin seorang laki-laki dengan massa otak yang sudah berkurang mengundang perempuan terhormat mengunjungi kontrakannya? Benar-benar gila! Tapi kukatakan aku akan datang – untuk melemparkannya ke samudra Hindia.

Tapi jujur, dirinya sekarang juga sudah banyak berubah. Kalau kau disini, kau pasti bangga padanya. Lebaran kemarin ibumu mengatakan “Allah tak akan menyia-nyiakan perasaan seorang ibu, nak! Satu hilang, yang satu menggantikan!” Aku kurang setuju dengan ibumu, bagaimana mungkin dia membandingkan dirimu dengan laki-laki yang otaknya sudah menyusut itu? Namun, aku cukup kaget ketika ibumu mengatakan “Dia sudah bertanggung jawab sekarang!” Aku dengan jeniusnya berpikir bahwa anak yang otaknya sudah menyusut itu sudah menghamili anak orang. Ibumu tertawa sampai menangis mendengarnya. “Bukan, dia sekarang sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri!” What? Aku excited! Bagaimana mungkin anak manja yang hanya tau menyusahkan itu membiayai kuliahnya sendiri? Belakangan kutahu dia melakukannya dengan menjual chevrolet tua ayahmu. Aku mengerti sekarang, dan anehnya aku tidak terkejut!

Kau, apa kabarmu sekarang? Selalu berharap kau baik-baik saja. Mesti lebih baik dari kabarku hari ini. Aku selalu mendo’akanmu by the way. Ya, hari itu kau melakukannya untukku. Sekarang dan seterusnya aku akan melakukannya untukmu.

Menulis seperti ini, percayalah tak ada hubungannya dengan move on-ku yang gagal. Aku hanya ingin menulis dengan nyaman. Dan aku merasa nyaman ketika bercerita seperti ini. Untuk saat ini, biarlah kembali seperti ini. Mengenai dirimu? Bukankah kita sudah berdamai? Ya, aku sudah berdamai dengan beberapa kenyataan dalam hidupku – termasuk kenyataan bahwa aku alergi plester. Setidaknya itu bukan penyakit mematikan, bukan?

Sekarang biarkanlah seperti ini (lagi). Aku akan tetap bercerita padamu – jika dibutuhkan. Seperti dulu, sekarangpun kau masih kopingku yang paling adaptif.

Kamar kehidupan, September 21th 2014 @ 01.11 am

Lagi-lagi menulis tengah malam. 

Links to this post
0

Survive..

Posted by Deslani Khairunnisa' on Saturday, October 26, 2013 in ,
Bismillah.... 


So hard to find 'this' thing.. 


and then it's found.. 



found and gone, then... 


could i say 'it's okay!'???... 


yeah,,, i could,, and i should..


Stay Strong!! 
How many times you said this for me..
and i say this for myself right now..
STAY STRONG, Lani.. 


Kamar kehidupan, Oct 26th 2013 @02:40am
#ini bukan galau, 
#it's a survival


Links to this post
0

Crying for Strength...

Posted by Deslani Khairunnisa' on Saturday, March 09, 2013 in




Menangislah, jika diperlukan,, 
atau jika kau perlu..
Jangan takut terlihat lemah..
Kau tau? Menangis itu adalah kekuatan..
Butuh kekuatan untuk mengeluarkan airmata itu..
Butuh kekuatan untuk membuat sekitarmu tau bahwa kau tidak sekuat yang mereka pikir...

Menangislah,,, 
dengan begitu hatimu akan lega..
Dan kau akan memperbaharui kekuatanmu kembali..
Semoga jadi pribadi tangguh, tak terkalahkan..
Yang tak lemah untuk menangis... 


Perpus PSIK-UR, March 09th 2013 @ 01.30pm

Links to this post
15

Special Thanks..

Posted by Deslani Khairunnisa' on Thursday, December 20, 2012 in


Bismillah....

Baru sekali ini dia semarah ini. Oke, beberapa hari lalu dia pernah marah dan aku tidak bisa membela diri. Dan hari ini dia marah, dan (bodohnya) aku makin tak bisa bela diri.

Hm,, mau bela diri dikit. Sebenernya 'ini' semua bukan salahku lho. Keadaan yang mengharuskan seperti ini (heheeh, alasan klasik banget). Oke, tak perlu kujelaskan lagi, kuanggap kau sudah mengerti karena memang seharusnya begitu. Kalau saja aku sanggup akan kulontarkan "Jika kau jadi diriku, apa yang akan kau lakukan? Akan adakah kata 'lakukan sewajarnya' itu mampu kau ucap?"

Well, tak mau berdebat lebih panjang. Untuk dirimu, dan terutama untuk diriku ^^. Aku gag mau merusak suasana-seperti yang biasa kulakukan. Hehee..

Satu hal yang mulai kupahami, kau begitu karena kau peduli, ya kan? Kau marah karna begitu khawatirnya, ya kan? Dan tak ada apapun yang bisa kulakukan untuk menenangkanmu. Ya, mau kubilang keadaanku baik-baik saja tentunya kau tak akan percaya lagi, ya kan? :D

Hm,, apa lagi yah?? Intinya keyakinanku akan dirimu makin tinggi. (plis jangan ge-er). Ya, sekarang ku tau-seperti yang kau bilang dengan pede-nya di depan hidungku bahwa jangan sepelekan dirimu. Oke, setelah semua yang kulihat dan kudengar, juga mungkin kurasakan *eneg banget nulis kata terakhir inih :D*, ku tau kau salah satu orang langka yang pantas untuk dimuseumkan. Eh sori, maksudku pantas untuk diperhitungkan... Abis tu dikardusin, masukin lagi karung, anyutin sungai Siak.. Hhaahahah... gag lah.. 

Udah berjalan tujuh bulan ya... Udah lumayan berat juga ya rasanya.. Ya iyalah, kau tau kan ransel ku itu menampung persediaan hidupku selama seminggu penuh. Panteslah kalo emang berat...... *Wooiii, apa-apaan inih????????* :D


Ummm, mengenai pembicaraan tadi, aku cuma mau bilang makasih. Makasih atas marah dan emosimu yang meluap-luap. Ya aku mengerti. Kalau kucingku sampai di opname, akupun akan mencak-mencak juga.. Eh, gag bisa disamain ya?? ^^
Intinya makasih atas semuanya, juga atas ma'afmu (yang terdengar begitu penuh penyesalan) setelah marahmu reda. Hehe.. Makasih atas do'a dan dukungan serta semangat untuk tidak (terlampau) drop dalam kondisi yang sudah drop ini. ^^.  Makasih atas semua yang udah kau beri-yang-aku-gag-tau kapan kau akan berniat menghentikannya. Makasih banyak. May Allah reward you.. Ameen.....


Hei, bukankah kau sedang ujian? Harusnya kau belajar dan berhenti menceramahiku, bukan? Kau harusnya lebih mempedulikan dirimu dari orang lain, bukan? :p. *Ayo, mau apa??*

Oiya, kau tak perlu takut akan akibat kemarahanmu tadi. Nggak usah kapok untuk memarahiku. Kau tau, oleh orang-orang tertentu-aku kadang suka dimarahi *gubrak*. hehe..

Sekarang tenanglah. Aku memang hampir kehabisan kata untuk meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja. Tapi percayalah, aku bahkan sekarang mampu menantangmu pacu lari.. Ralat: maksudku kau lari, aku pake motor aja biar gag capek.. ^^ Siipp????? 

Keadaanku udah jauh lebih baik. Tadi ibu dah datang dari Payakumbuh. Kasian banget, bahkan sejak tau aku dirawat beliau gag bisa makan. Ckckcck.. Temen-temen tadi juga berkunjung. beberapa tetangga juga-yang bahkan aku salah sebut namanya (Hahahah, ya Allah, sumpah malu banget. Mana pede banget bilang "Makasi ya Mbak T**". "Hee, bukan Lani, ini Mbak W*****" Mampusss...). Anyway, mereka semua sangat membantu... Juga dirimu si-dikit. :p


Sekarang belajar aja yang rajin. Sedang ujian kan? Belajar yang bener. Gga udah mikir aneh-aneh. Tunggu aja liburan dengan semangat. hehe. Trus bawa nilai yang keren, bagi dah ilmunya disini. ^^
Semoga Allah memberikan kemudahan serta kelapangan hati dan pikiran kepadamu. Semoga lancar ujian dan jaga kesehatan juga. ^^. Insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik untukmu, untuk kita dan untuk kedepannya. Insya Allah....


Opname @ RS AURI, 18.12.12
#sebenernya mau bilang langsung tadi. Tapi kau tau-aku bahkan tak bisa buka mulut dengan sempurna. Lagian kau tak akan membiarkanku bicara sebanyak ini, kan? ^^



Links to this post
0

Test IQ?? Menggelikan..

Posted by Deslani Khairunnisa' on Sunday, November 18, 2012 in , , , ,
Bismillah...

Beberapa waktu lalu, aku iseng. Karena kehabisan ide buat nulis, akhirnya membenturkan kepala ke tembok. Haha, gag lah... Cuman kepikiran aja, koq otak gua cetek banget. Kok susah banget bikin sesuatu yang keren itu. Hhh,,,

Akhirnya ku search di gugel ttg tes IQ online. Karena emang nafsu bener pengen tau hasilnya.. 

Here it is....

Skor IQ anda adalah 122 

Aku berhasil menjawab 15 dari 19 pertanyaan yang disajikan. Total waktu yang kuhabiskan 09:14 menit. Hmm, lumayan sih...

Berdasarkan test IQ, anda sangat cerdas. Nilai rata-rata IQ adalah 100. Banyak orang yang memiliki IQ antara 90-110. Individu yang memiliki skor IQ antara 115-125 termasuk orang yang cerdas dan berbakat. Kami bisa mengatakan bahwa anda termasuk orang yang lebih cerdas daripada 85% populasi.

Ini dia penjelasan lebih rincinya:

Hasil IQ Verbal

Hasil di bawah ini menunjukkan bahwa anda telah menjawab 5 dari total 5 pertanyaan verbal dengan benar
Meskipun sebagian orang menganggap kecerdasan verbal dan kecerdasan logis termasuk kategori berbeda, kami menggabungkan mereka pada test IQ MV2G.

Definisi Kecerdasan:

Pertanyaan dalam kategori ini berkaitan dengan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Orang-orang dengan kecerdasan verbal-linguistik yang tinggi menunjukkan kecakapan dalam berbahasa. Mereka cenderung pandai membaca, menulis, bercerita dan mengingat kata-kata dan tanggal. Mereka belajar dengan cepat melalui membaca, menulis, mendengarkan mata pelajaran, berdiskusi dan berdebat. Mereka juga terlatih dalam menjelaskan, menerangkan pelajaran dan mempengaruhi seseorang. Mereka juga mudah dalam mempelajari bahasa luar negeri karena mereka bisa mengingat kata-kata dengan cepat, dan mampu memahami, dan memainkan struktur dan syntax dengan baik. Pekerjaan yang cocok bagi mereka adalah penulis, pengacara, filsuf, wartawan, politisi, penyair dan guru.


Kecerdasan Logis

Pertanyaan pada kategori ini berkaitan dengan logika, abstraksi dan pemikiran. Orang-orang yang memiliki kecerdasan logika yang tinggi memiliki kemampuan untuk berfikir dengan tepat dan logis sekaligus pandai dalam membuat strategi. Mereka pandai dalam memahami rumus abstrak, ilmiah, dan investigasi. Kecerdasan ini sangat terkait dengan berbagai macam bidang kecerdasan. Karir yang cocok buat mereka adalah ilmuwan, insinyur dan dokter.

Hasil IQ Visual

Hasil berikut ini menunjukkan bahwa anda telah menjawab 7 dari 10 pertanyaan visual dengan tepat.
Area ini berkaitan dengan visi dan dan penilaian visual. Individu dengan kecerdasan visual-grafis yang tinggi pada umumnya pandai dalam membayangkan dan me-manipulasi objek. Sedangkan individu yang memiliki kecerdasan grafis yang tinggi sering kali pandai dalam menyelesaikan puzzle. Mereka yang memiliki ingatan visual yang kuat juga cenderung artistik. Orang-orang dengan kecerdasan ini umumnya juga memiliki kemampuan tinggi dibidang petunjuk arah dan memiliki koordinasi tangan dan mata yang baik.

Hasil IQ Matematis

Hasil berikut ini menunjukkan bahwa anda telah menjawab 3 dari 4 pertanyaan Matematika dengan tepat.
Area ini berkaitan dengan matematika dan angka-angka. Sering terdapat anggapan bahwa mereka dengan kecerdasan ini secara alami unggul dalam bidang matematika, memprogram komputer dan aktifitas yang berhubungan dengan angka lainnya. Kecerdasan matematika mempunyai korelasi positif yang kuat dengan kecerdasan lainnya. Karenanya orang-orang dengan kecerdasan matematika-angka yang tinggi juga sering kali baik dalam area lainnya. Mereka biasanya sangat baik dalam mengenali pola-pola, sangat terencana, seksama dan sering kali menyukai komputer.
Hmm,, itulah hasil test IQ-ku.. Ya, sebenernya sih nggak mewakili tes IQ sungguhan... Karena test IQ ini cuman mewakili test kognitif doank, tanpa ada pengukuran kinestetik dan musik. 

Kalo kulihat si, gag terlalu buruk.
Klasifikasi IQ berbeda untuk setiap metode test yang digunakan. Stanford-Binet mengklasifikasikan nilai IQ normal yang berkisar diantara 85 – 115. Lewis Terman mengklasifikasikan nilai IQ normal pada kisaran 90 – 109. Lebih jauh lagi, Wechsler mengklasifikasikan IQ normal pada angka 100 dengan nilai toleransi 15 (berarti 85 – 115). Dikarenakan perbedaan ini, maka selain nilai IQ yang didapat, harus diperhatikan pula metode test apa yang digunakan.
Untuk klasifikasi umum, saat kita tidak mengetahui metode apa yang digunakan. Bisa menggunakan klasifikasi dibawah ini (hasil kompromi ketiga metode diatas).
  • 70 – 79 : Tingkat IQ rendah atau keterbelakangan mental.
  • 80 – 90 : Tingkat IQ rendah yang masih dalam kategori normal (Dull Normal)
  • 91 – 110 : Tingkat IQ normal atau rata-rata
  • 111 – 120 : Tingkat IQ tinggi dalam kategori normal (Bright Normal)
  • 120 – 130 : Tingkat IQ superior
  • 131 atau lebih : Tingkat IQ sangat superior atau jenius.
Mmm,, kalo dilihat dari sini berarti IQ-ku termasuk superior donk.. Wah, pinter juga ya.. Sayang banget kalo sampe gag berprestasi... Tul???

Oiya, bagi temen-temen yang pengen test IQ, coba aja di http://www.iqelite.com..

Referensi:


Kamar kehidupan, Nov 18th 2012...

 

 


Links to this post
5

Ini curahan hatiku tentangmu [dikiiit]..

Posted by Deslani Khairunnisa' on Sunday, September 16, 2012

Bismillah....

“Bukannya ukhti yang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan. Tapi kenapa ukhti tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk membuktikan pilihannya?
Ukhti tau? Ukhti adalah orang paling egois yang pernah ana kenal!”

Aku tertegun membaca pesan singkat di chatbox blog pribadiku. Beberapa saat lamanya aku hanya diam. Kembali kubaca pesan itu hingga beberapa kali. Huffftt,, berat ya? Gag juga! Mungkin dia kecewa kepadaku. Tak apa! Aku tahu itu.. ^^

Akhir Februari 2012
Jam sembilan malam, aku baru siap menjemput keponakanku dari sebuah les bahasa Inggris. Kutarik pagar garase sekuat tenaga. Jam segini Uda udah istirahat, maka mengunci pagar jadi tugasku. Owh, aku berhenti sejenak ketika merasakan denyutan di bahu kiriku. Nyeri. Arggh, entah kapan penyakit ini akan sembuh. Beberapa detik kemudian kembali kutarik pagar besi itu. C’mon Lani!!
“Butuh bantuan?” sebuah suara cukup membuatku terlonjak, kaget. Kuangkat kepalaku dan menemukan seseorang dengan kopiah putih berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri sambil menahan pagar.
            “.......” aku hanya diam sambil menarik sedikit tubuhku ke balik pagar. Sebisa mungkin menjauh darinya.
            “Sibuk banget ya?” ujarnya kemudian.
            “Oh, gag juga!” hanya itu yang keluar dari bibirku. Kembali kutarik pagar, tapi tertahan tangannya. “Emm, maaf. Tapi Lani buru-buru!” ucapku cepat.
            “Bisa minta waktu ukhty sebentar?” tanyanya setelah beberapa saat.
            “Ada apa?” aku mengernyit.
            “Ada yang mau diomongin dikit!”
            “Besok aja kali ya? Udah malam. Gag enak ngobrol kayak gini. Ntar dipikir macem-macem!” jelasku singkat sambil sesekali melirik pintu garasae, khawatir kepala Uda nongol disana.
            “Nggak bisa besok ukhty! Ini udah sejak beberapa hari lalu ana nunggu ukhty. Tapi baru malam ini ketemu. Ukhty sibuk banget!”
            “Besok nggak sibuk kok. Mungkin ada sedikit waktu!” aku bernegosiasi.
            “Nggak! Ana hanya minta waktu ukhty sebentar! 5 menit!”
Kuberanikan diri menatapnya. Hufft, tak ada gunanya berdebat lebih lama. Toh aku pernah berhadapan dengan keras kepalanya dia, dan aku menyerah waktu itu. Ya Allah, save me! Syetan, menjauhlah!! Semoga aman-aman saja. Kalo sempat ada ustadz atau anak pondok yang lewat atau Uda yang keluar, maka tamatlah riwayatku. “Oke, 5 menit dari sekarang!” ujarku sambil melirik jam tanganku, yang sebenarnya aku pun tidak jelas sekarang jam berapa. Kudengar helaan napas berat darinya.
            “Mama minta aku menikah segera!” ujarnya gugup. Srrr,, aku kaget. Sumpah. Tapi tak satupun kata keluar dari bibirku. Akupun juga tak berani menatap wajahnya. Tiba-tiba saja sesuatu berkecamuk didadaku. Apa maksudnya? “Ukhty denger kan?” dia kembali bersuara setelah beberapa lama aku hanya diam.
            “Ya.. Denger.. Trus hubungannya sama Lani apaan?” tanyaku hati-hati.
            “Huffftt..” kembali kudengar helaan napas beratnya. Mungkin dia kecewa dengan responku. “Emm, mungkin ukhty masih ingat pembicaraan kita beberapa waktu lalu. Tentang...”
            “Ya, Lani ingat!” aku segera memotong ucapannya sebelum dia kembali mengungkit kalimat yang entah sudah berapa kali dilontarkannya kepadaku. Sungguh, tak ingin lagi mendengarnya. “Lalu?” tanyaku kemudian.
            “Berapa lama lagi ukhty tamat?” pertanyaannya sungguh gag nyambung-kurasa.
            “Hmm,,, Satu setengah taon lagi insya Allah. 2,5 taon kalo diwajibkan ambil profesi.” jelasku. “Emang kenapa?”
            “Kalo ukhty mau menjanjikan sesuatu. Ana bisa menunggu!” Srr.. Darahku kembali berdesir. Aku tau kemana arah pembicaraannya. Sebelumnya dia sudah berulang kali memintaku, dan aku selalu memberi jawaban yang sama, aku nggak bisa. Gag bisa menjanjikan apa-apa.
“Kenapa ukhty hanya diam?” aku mendengar sedikit kegusaran dalam nada bicaranya.
“Lani harus ngomong apa?” hanya itu kalimat yang terlontar dibibirku dari sekian banyak pertanyaan yang tersusun di otakku.
“Ana mohon ngomonglah sesuatu. Mama sudah mencarikan calon wanitanya. Ana gag punya alasan untuk menolak. Kecuali satu kepastian dari ukhty. Pernikahan bukan hal main-main. Ini menyangkut kehidupan kita sampai mati, insya Allah..”
Aku masih tetap diam. Aku harus menjawab apa? Satu-satunya jawaban yang ada di otak dan hatiku tetap sama seperti sebelumnya. Siapa aku yang berani menjanjikan sesuatu yang aku sendiripun gag yakin? Siapa aku yang berani mempertaruhkan kehidupan anak orang? Siapa aku berani mendahului kehendak Tuhan? Tak ada yang tau apa yang akan terjadi satu atau dua tahun kedepan. Bahkan apa yang akan terjadi 2 detik lagi, akupun tak tau. Jadi apa yang harus kujawab? Kepastian seperti apa yang dia minta dariku?
            “Katakan sesuatu ukhty....”
            Tapi aku masih tetap diam sambil sesekali melihat kepintu garase dengan khawatir. Kuberanikan diri menatap wajahnya. Dia dihadapanku, masih sama seperti awal bertemu dulu, 3 tahun lalu. Mengenakan jubah warna gelap dan memakai kopiah putih yang menutupi separoh kepalanya. Bisa dibilang aku sama sekali tidak mengenalnya. Bahkan tak ada yang aku tau tentang dirinya selain nama dan ibunya-mungkin. Dia baik, hanya itu yang aku tahu. Ta’at, insya Allah. Paham agama, setidaknya dari kebanyakan teman laki-lakiku. Keras kepala dan pantang menyerah. Selebihnya aku tak punya ide lagi tentang dirinya. Jadi bagaimana mungkin aku.....
            “Ukhty tau wanita itu? Anak kecil yang manja....” kembali kudengar suaranya. Aku menggaruk belakang kepalaku. Bingung mau berespon gimana.
            “Emm, anak kecil maksudnya?” kuberanikan diri bersuara.
            “Iya, anak kecil. Tamatan ********* yang kerjaannya ngejar laki-laki. Ana gag suka wanita seperti itu.” He? Lah, apa bedanya sekarang? ^^
            “Hmm,, Mungkin gini, Lani gag tau mesti gimana. Karena sumpah bingung banget. Sebenernya kita gag saling kenal, ya kan? Kamu gag tau apa-apa soal diri Lani, begitu juga sebaliknya.”
            “Ana tau banyak tentang ukhty...” dia memotong ucapanku.
            “Err,, Whateverlah. Masalahnya jauh lebih komplit dari apapun yang mungkin ada dipikiran kamu. Nggak segampang itu untuk menjanjikan sesuatu kepada seseorang. Siapa sih Lani, ya kan? Lagian, jika orang tua udah ridho, insya Allah itu yang terbaik..” entah darimana datangnya aku bisa sebijak ini. ^^
            “Jadi ana emang gag ada artinya buat ukhty? Gag bisakah sedikit mempertimbangkan?” He? Apa-apaan?
            “Bukan.. Bukan gitu maksud Lani. Banyak hal yang harus dipikirkan.”
            “Ya pikirkanlah!! Atau ukhty udah punya calon?” tanyanya penuh selidik.
            “Ya Allah.. ampun deh. Sekarang gini, ini udah malem. 5 menitnya juga udah berakhir sejak tadi. Ini gag enak banget ngomong kayak gini. Karena sepertinya kamu gag pernah ngerti kondisi Lani gimana, ya kan?”
            “Bukan ana yang gag ngerti kondisi ukhty, hanya ukhty mengkondisikannya terlalu berlebihan...” He? Apa-apaan? Well, okelah.. Ternyata emang gag ada yang mengerti diriku.
            “Emm,, Lani minta maaf banget. Tapi ini udah malem. Lani capek.” Aku mencoba mengakhiri pembicaraan ngawur itu dan kembali menarik pagar. Tapi lagi-lagi dia menahannya. “Maaf, tapi.....”
            “Apa yang nggak ukhty suka dari ana? Apa yang menurut ukhty kurang? Ana pernah bikin ukhty sakit hati? Pernah bikin salah ke ukhty?” rentetan pertanyaan keluar dari bibirnya. Kurasakan tatapannya terarah kepadaku, mengunci gerakku. Ya Allah, bagaimana mungkin aku bisa berada pada situasi seperti ini? Siapapun tolong aku! Selamatkan aku! “Jawab ukhty... Biar ana bisa memperbaikinya!”
Astaghfirullah.. Ya Allah, apa ini? Well, bagaimana mungkin aku memaparkan kelemahannya, sementara aku tak mengetahuinya. Yang aku tau dia menyampaikan sepotong ayat Al-Qur’an ketika dia mendapatiku keluar rumah dengan jilbab abal-abalku. Yang aku tau dia mencoba menguatkan aku ketika mendapatiku menangis. Yang aku tau dia terang-terangan berdo’a dihadapanku untuk kesembuhanku ketika mendapatiku berjalan tertatih pasca kecelakaan tahun lalu. Yang aku tau dia tak pernah berkata kasar apalagi bertindak kurang ajar separah apapun perlakuanku padanya. Yang aku tau dia tak pernah marah ataupun pasang tampang kesel, secuek dan sekasar apapun responku kepadanya. Jadi ingat tahun lalu ketika dia menghampiriku dan menanyakan hal yang (menurutku) sama sekali gag penting, “Siapa laki-laki yang ukhty temui disini semalam?” Hello, siapa elo hingga gua harus kasih tau. Lagian cuman temen yang nganterin bahan tugas kelompok. Dan akhirnya, “Udah deh, gag usah ikut campur urusan Lani. Masalah Lani udah banyak, banget. Dan sekarang kamu dateng nambahin segerbong masalah lagi. Makasih..” Dan dia hanya diam, mungkin gag nyangka akan mendengar respon sekasar itu dari seorang wanita. Dan pada akhirnya, “Afwan, ana hanya ingin tau. Mungkin gag seharusnya bertanya. Sekali lagi ma’af. Oya, semoga Allah memudahkan semua urusan ukhty, semoga semuanya lancar. Semoga diberi kesabaran dan kekuatan oleh Allah. Ameen..” dan diapun beranjak meninggalkanku dengan sejuta rasa bersalah. Nah, kalo kayak gini dimana aku menemukan kekurangannya? Yang ada malah sebaliknya. Apalah aku dibanding dirinya? Apalah aku dihadapan mata sayu nan teduh itu? Yang membuatku selalu menunduk jika dihadapannya. Apalah aku dibanding kening yang menghitam karena bekas sujud itu? Apalah aku dibanding senyum kocak dan tutur bahasanya yang blak-blakan? Apalah aku dibanding kemurah-hatian dan kebesaran jiwanya? Apalah aku dibanding jiwanya yang lapang? Apalah aku dibanding jubah sebetisnya yang menawan?
            Aku hanyalah Lani. Seorang anak manusia yang berjalan tertatih di jalan ini. Seorang wanita yang imannya rapuh banget. Seseorang yang punya keinginan besar untuk berubah ke jalan yang benar, tapi untuk meninggalkan musik saja masih belum berhasil sepenuhnya sejak 3 tahun lalu. Seseorang yang bahkan untuk sholat 5 waktu saja masih lalai. Seseorang dengan secuil amalan yang belum tentu diterima tapi punya segudang dosa. Siapa aku? Pantaskah?
            Tapi mungkin ada satu hal yang membuatku susah membuka hati. Ada seseorang dihatiku. Sejak 7 tahun lalu. Tak bisa aku mengusirnya. Sekalipun aku sangat ingin. Seseorang yang ingin kuhapus dari hatiku sekaligus ingin kupertahankan mati-matian. Seseorang disana. Ingin kuhapus, tapi ku tak mampu...


Kamar kehidupan, April 02nd 2012..


Links to this post
0

Ramadhan taun lalu? Bisakah seperti ini lagi (taun ini)?

Posted by Deslani Khairunnisa' on Friday, July 13, 2012 in ,
Bismillah...

Catatan lama yang kutemukan ketika mengobok-obok file laptopku... Catatan pas Ramadhan taun lalu. Disaat aku dekat denganNya, kurasa. Kenapa sekarang gag bisa Lani? Kenapa sekarang makin jauh aja? Kenapa kau makin jauh Lani... Kau tau Lani, dirimu payah sekali... 

 
Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin....
SubhanAllahiwabihamdih... Allahu akbar...
Puji syukur aku haturkan kepada Rabb semesta alam, yang tidak pernah tidur, yang senantiasa mengurus makhluk-Nya. Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..

Wallahughafuururrahiim... Sungguh aku tak mampu menahan derai airmata ini. Seakan bukan keluar dari mataku, melainkan dari hati sebagai ungkapan penyesalan dan pengakuan atas gelimangan dosa yang selama ini menyemak didalam sana.

Aku tidak paham Bahasa Arab, tapi Alhamdulillah di Ramadhan penuh rahmat ini aku mencoba sedikit belajar. Kalimat-kalimat indah berupa do’a atau penguatan untuk hati dan imanku, senantiasa aku catat dan ingat [sedikit demi sedikit]. Dan ayat diatas bersama potongan ayat ‘waulaaika ash-haabunnaar, humfiihakhaaliduun’, adalah potongan yang menggema direlung-relung jiwaku. Astaghfirullah al’adziim, laahaulawalaa quata illabillah.

Ya Rabbi, aku adalah hamba-Mu yang kecil, rendah lagi hina. Apalah diriku dibandingkan hamba-hambaMu yang sholeh dibelahan bumi sana. Apalah aku dengan timbunan maksiat yang mematikan hatiku. Apalah diri ini dengan secuil amal yang belum tentu-pun Engkau terima.

Ya Allah, apa jadinya diri ini tanpa kasih dan sayang-Mu? Siapa aku tanpa rahmat-Mu? Ya Allah, ampuni dosa hamba yang sungguh tak terhitung. Terimalah amal ibadah hamba yang cuman seujung kuku.
Aku ingat akan dosa-dosaku. Ketidaksyukuran-ku atas takdir yang sebenarnya sungguh indah yang Kau gariskan atas hidupku. Ketidak-ikhlasan-ku dalam melakukan segala hal. Kebodohanku, ketidaktahuanku, kelemahan iman ini dalam menghindari maksiat. Ya Allah, beri hamba ampunan-Mu. Bersihkan diri hamba ya Rabb....

Entah apa yang Allah ingin tunjukkan padaku malam ini. Dalam rukuk-ku aku ingat tulisan yang baru kemaren aku baca. “Ingatlah hari dimana Allah sangat murka. Allah tidak pernah semurka itu sebelum dan sesudahnya. Dia membiarkan hamba-Nya menunggu penghisaban selama ratusan [atau ribuan? Ana lupa] tahun. Hari dimana seorang ibu tidak mengenal anaknya, anak tidak mengenal ibunya. Semua sibuk dengan diri masing-masing. Ketakutan akan murka Allah..........” [kira-kira begitu isinya].

Ya Allah,, aku takut. Takkkuuuut sekali. Dengan cara apa aku akan mati? Apa yang akan jadi kalimat terakhirku? Apa yang akan aku bawa? Adakah bekalku yang mungkin akan Kau lirik untuk menyelamatkanku dari murka-Mu ya Rabb? Dari pedihnya azab-Mu? Dari neraka-Mu?? Adakah aku akan berbahagia setelah penghisaban itu? Atau derita tak berkesudahan akhirku? Na’udzubillah..

Ya Allah, ampuni hamba... teguhkan iman didada hamba. Ingatkan hamba selalu akan diri-Mu ya Rabb.. Rangkul hati hamba, jangan Kau lepaskan... Cukup sudah ia jadi bahan mainan syetan laknatullah... Ya Allah, jauhkan hamba dari neraka-Mu. Matikan hamba dalam keadaan husnul khatimah. Aku mencintaimu ya Allah...

                Renungan tengah malam, kamar kehidupan-10 Ramadhan 1432H [100811]

Nb: Dengan tumpukan THR yang datang siang tadi [Alhamdulillah], harusnya aku bahagia malam ini. Tapi kenapa aku malah bersedih hati? Dan tiba-tiba saja dunia ini jadi begitu kecil-nyaris tak berarti.

Links to this post
0

Hidup?? Hm,, Komplit...

Posted by Deslani Khairunnisa' on Thursday, April 19, 2012 in ,

Bismillah...

Banyak banget yang pengen ditulis. Mulai dari hal sepele sampai hal-hal luar biasa yang terjadi dalam hidupku beberapa hari belakangan. Orang-orang penting dan berharga dalam hidupku, sampai orang-orang gag penting yang ikutan nimbrung dalam perjalanan hidupku. Mereka yang membuatku tertawa sampai sakit perut, sampai mereka yang membuat mataku bengkak karena menangis. Seperti tadi siang diparkiran, ketika Ukhti Daho memproklamirkan kebodohanku dengan lantang, “Eh, tau gag Lani titip apa? Ikan sotong! Huahuahahahaa...” Hehe,, aku ikutan ketawa ampe nangis. Maksud aku ikan laut itu lho ukh.. Yang ada ‘o’-nya... Arrgghh, sampe sekarang masih gag ingat namanya apa. Bodo ah.. Hehe..

Friday, March 02nd 2012
Aku mengangkat tanganku secepat dan setinggi mungkin. Lalu bersorak ketika moderator menyebut namaku sebagai salah satu dari 3 orang yang beruntung untuk bertanya pada 2 kelompok seminar di depan. Osteomielitis dan Gout Arthritis, pembahasan yang menarik-terutama bagi orang yang bermasalah dengan tulang-sepertiku.
“Kita persilakan kepada Saudara **** untuk bertanya duluan!” moderator memberi kesempatan pada seorang temen yang duduk persis disamping kananku.
“Baiklah.. Bla bla blablablablab...” Eh? Eh? Woi.. Do you know, what his question is? Where does he got his idea? Huh? Dia membacakan pertanyaan dari coretan catatanku yang memang terpampang jelas dihadapannya. Woi, it’s mine! Masya Allah.. dia kembali duduk dan berucap dengan santai-tanpa dosa, “Sori ya Lan!” dan aku menjawab dengan senyum-asem..
“Silakan penanya berikutnya, Saudari Deslani!”
“Pertanyaan Lani sama dengan pertanyaan sebelumnya. Kasih kesempatan pada temen-temen lain aja!” aku menjawab sambil menahan kekesalanku, dan selebihnya aku hanya diam. Yang ribut malah temen yang disamping kiriku yang tau persis itu pertanyaanku. “Garing kali anak tu! Sabar ya Lan..” “Nyante aja Rin.. Udah biasa!” dan aku tersenyum-kecut. Kesel? Pastilah.. Apalagi pas terakhir, dosen bilang “Bagus sekali ya pertanyaannya!” Wooii.. Itu pertanyaan gua!
Hhhh,,, ada juga masih ya orang kayak gini di 2012 ni. Kirain udah pada end.. Haha.. Udah biasa banget sih di-plagiat. Ama temen sendiri juga. Malahan ama orang-orang yang kurasa terpelajar dan berakhlak baik. Tapi yang terang-terangan didepan mataku gini? Alhamdulillah, baru sekali ini. Tanpa permisi, tanpa babibu.. Wuiisshh, keren.. plok, plok, plok.. Pemuda ‘kritis’ calon pemimpin negeri ini, yang kusebut ‘BANCI’.

Ahh, hidup. Aku masih belum berani mendefinisikan apa sebenernya hidup ini. Karena hidup gag sekedar bernapas, bergerak, dan berkembang biak seperti yang tercantum dalam buku IPA SD dulu. Hidup jauh lebih bermakna dari itu semua, tapi tergantung bagaimana kita memaknainya juga kan?
Butuh kekuatan untuk hidup. Dan bertahan adalah kekuatan utama, menurutku. Orang yang MAMPU bertahan adalah orang yang paling kuat dimataku. Nah, sekarang darimana kekuatan itu didapatkan? Dari sepiring nasi? Sebungkus lontong? Sekardus kuaci? Atau dari suplemen pendongkrak daya tahan tubuh yang bisa didapatkan di apotik depan rumah? Hhh,, well,, bener sih kekuatan bisa didapat dari situ. Ah, jadi ingat semester lalu. Disuatu pagi yang (hhhh) cukup berat untuk hari yang akan berat, dan aku telat ke kampus. Garase hampir kututup dengan sempurna ketika Uni berteriak dari dapur, “Udah sarapan?” “Belum.” Mampus! Entah angin apa yang membuatku jadi begitu jujur [gag seperti biasa-soal sarapan]. “Masuk! Sarapan!” perintah Uni tegas. “Yaahh, Uni.. Ani dah telat. Ntar aja dikampus!” “Masuk! Atau bawa sini kunci motor!” Glek. Oke, oke... “Mesin gag diisi. Udah tau kuliah ampe malam. Ntar kalo kamu tumbang siapa yang repot? Uni juga kan? Tau nggak... blablablaa.. “ dan pagi itu aku dapat materi kesehatan pencernaan 1 SKS.
Well, kembali ke awal tulisan ini, tentang hidup dan kekuatan! Kau bisa dapatkan kekuatan dimana saja. Dari sajadahmu, dari mushafmu, dari sobatmu, ibumu, ayahmu, keluargamu, dari perkataan teman lama yang sangat luar biasa, dari dosenmu yang membagi sedikit pengalaman hidupnya yang berharga, dari pemulung yang kau temui tiap subuh depan rumahmu, dari seorang ibu yang mendorong kursi roda anaknya sepanjang jalan, dari mereka yang menjahit sol sepatu di persimpangan jalan tanpa penglihatan, dari mereka yang berjalan tertatih ke mesjid ditemani tongkat lapuk penopang tubuhnya, dari manapun.. Allah menyisipkan kekuatan itu dalam segala hal. Sekarang tinggal caramu menemukannya. Setajam apa mata[hati]mu melihatnya.
Minggu kemaren, aku menemukan 2 orang sobatku menangis terang-terangan dalam waktu yang berbeda. Yang pertama, dia menghempaskan tubuhnya di bangku disebelahku sambil mengusap airmatanya. Kurasa dia baru saja menerima telpon. Ada apa dengan dirinya? Bukankah sebelumnya kami ketawa bareng? Ketika kutanya dia hanya menggeleng dan terus menangis. Menangis tanpa menunduk, tanpa menyembunyikan wajahnya. Ini terjadi di kelas, yang rame dan ribut. Selebihnya aku hanya diam, mungkin dia gag ingin aku tau. Hh,, hal yang paling menyebalkan ketika kita sedang down adalah pertanyaan. Please, jangan nanya! Lalu pas kelas usai kembali aku menanyainya, dan aku mendapat jawaban yang bikin aku ngakak, “Biasalah, anak muda. Haha..” Hmm,, artinya, keadaannya lebih baik. Syukurlah..
Sobatku berikutnya kutemukan menangis di bangku panjang depan kelas, pas persiapan paripurna kemaren. Dia jelas-jelas menangis dan menangis dengan jelas (???). Ketika kubertanya, nggak digubris. Aku membiarkannya sendiri. Yah, mungkin dia butuh. Sekitar 2 jam berselang, kembali kutanya kenapa dia nangis. Maka jawabannya juga sungguh luar biasa, “Dah lama gag nangis. Nyuci mata.. Hehe..” dianya nyengir. Huufftt,, okelah.. Artinya semua baik-baik aja sekarang.. Syukurlah...
Maka aku mengacungkan 4 jempol buat 2 sobatku ini [pinjem 2 jempol tetangga]. Kenapa? Karena aku tak akan sekuat mereka. Aku tak pernah berani meneteskan airmataku didepan khalayak. Maka apabila hal itu terjadi, pastinya dadaku udah mau meledak dan aku tak sanggup lagi menahannya. Yap, mereka adalah orang yang kuat. Tentu saja. Butuh kekuatan besar untuk menunjukkan kelemahan, kesedihan, dan kekalahan kita didepan semua orang. Yaaa, walaupun gag selamanya tangisan itu menunjukkan kelemahan ataupun kekalahanmu. Ya kan?
Lalu bagaimana dengan diriku? Apakah aku orang yang lemah? Oh, tentu saja tidak. Aku orang yang kuat, pastinya. Taukah betapa beratnya menahan semua desakan didadamu, menahan perih di hatimu? Taukah betapa sakitnya ketika harus berbohong pada semua orang mengenai dirimu? “Lani matanya koq merah? Nangis ya?” “Hah? Nggak.. Ini... Apa tadi.. Kelilipan.. Masih merah yah?” Atau ketika di telpon.. “Flu ya Lan? Koq ingusan gini dengernya?” “Oh... Iya.. Cuaca lagi gag bagus disini..” Hhh,, sakit banget rasanya. Dan aku kuat karena berhasil menelannya sendiri.
Beberapa tahun lalu, aku sering dikuatkan oleh seseorang, “Kuatlah Kani. Masa’ gitu aja gag sanggup. Jangan cemen donk. Kuat! Siip?” Haha,, dia emang gag pernah bersikap manis kalo aku sedang down. Jangan harap ada kata-kata: “Sabar yah? Semua pasti ada jalan keluarnya. Aku ngerti kok perasaan kamu!” Haha, yang ada malah, “Yah segitu doank pake nangis! Jadi cewek jangan cengeng donk. Kalo gitu apa bedanya Kani dengan mereka yang di luar sana. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngambek. Jadi cewek jangan lemah! Yang tegar!” Hufftt, aku rindu suara itu walau kadang aku benci mendengarnya. Tapi ya kuakui, it worked!
Lalu seperti apa sebenernya diriku?
Entahlah, aku bingung....

kamar kehidupan, 10 Maret 2012 @ 01:16am


Links to this post

Copyright © 2009 Peace Zone All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.