0

Kau, aku dan secangkir kopi (lagi).. [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' on Tuesday, August 25, 2015 in , , ,

Bismillah.....


"Aku tau rasanya!"
"Eh??"
"Sakitmu itu, aku pernah merasakannya!"
"........ Maksudmu, karena aku?"
"Wah kau sudah tau rupanya?"
"….........."
"Sudahlah! Percaya padaku, kau bisa mengatasinya!"
"Apa sesakit ini?"
"Eh?"
"Sakit yang kutimbulkan, apa separah ini?"
"Umm.... Aku tidak tau seberapa parah yang kau rasakan sekarang. Tapi kurasaaaaa, ya, sakitku bahkan terlihat lebih parah!"
"Benarkah?"
"Kurasa! Karena bahkan setelah semua yang kau lakukan padaku, aku,tetap tidak bisa membencimu! Paling tidak sekarang kau membencinya, bukan?"
"..........."
"Yaaa,,, orang bilang lebih menyakitkan ketika kau sangat ingin dan berharap bisa membenci seseorang yang melukaimu, tapi ternyata kau tidak bisa! Kau tetap menyerahkan dirimu untuk kembali dan kembali dilukai!"
"............."
"Masih sakit?"
"........ Ya, semakin sakit ketika mengetahui aku telah membuat seseorang merasakan hal yang sama!"
"Jangan dipikirkan! Aku tidak bermaksud membuatmu merasa lebih buruk!"
".............."
"Aku hanya ingin kau tahu, bahwa terluka, semua orang merasakannya! Akupun begitu!"
".............."
".............."
"Yap!! Aku merasa sangat beruntung sekarang! Paling tidak aku punya seseorang disisiku!"
"Ya, tentu saja! Kau selalu memilikinya..."
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Tentu saja!"
"Kopimu...... Apa sudah dingin?"
"Hahaa... Kupikir luka tidak akan bisa membuatmu membenci kopi dingin!"
"Kau tau kenapa aku suka kopi dingin?"
"Karena kau hanya minum kopi untuk menemanimu berpikir. Dan kau selalu butuh waktu lama untuk berpikir dan merenung! Merenungi semua hal dalam hidupmu! Hal sepele itu, bagaimana mungkin aku tidak tau?!"
"Hahaa... Sebenarnya bukan karena itu!"
"Oh ya? Ada alasan lain?"
"Karna dengan begitu, akan membuat seseorang duduk lebih lama, bersamaku!"
".........."
".........."
"Padahal sebenarnya kau tak perlu melakukan apa-apa! Akan ada seseorang yang dengan senang hati duduk disampingmu ketika kau butuh! Dasar bodoh!"
"Eh...?"
"Kurasa sakitmu sudah berkurang! Cepat habiskan kopimu!"


Kamar kehidupan, May 04th 2015



Links to this post
0

The feeling has gone! Congratulation! [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' on Tuesday, August 25, 2015 in , ,


Bismillah...

Jadi seperti ini saja? Seperti ini saja perasaan mempermainkan? Seperti ini saja hati terbolak-balik? Terlalu mudah? Iya! Untuk tetap memilikinya setelah bertahun-tahun, tak peduli sekeras apa usaha untuk menepisnya, tak peduli berapa banyak cara yang sudah dilakukan untuk menghilangkannya, tak pernah berhasil. Dan sekarang hancur lebur begitu saja tanpa disadari. Hancur tanpa bekas. Seperti segenggam debu ditengah padang pasir, diterbangkan angin, mengawang, lalu jatuh ke tanah. Jadi tak berarti, tak bermakna, tak pernah dipertanyakan lagi, apalagi diperhitungkan. Ya, begitu saja! Begitu mudahnya!

Dulu, bisa berjam-jam mempelototi namanya di kontak ponsel. Memikirkan apa yang bisa dijadikan alasan untuk mengiriminya pesan. Lalu membenturkan kepala ke tembok karena tidak ada ide! Ya, dulu begitu!

Dulu, bahkan bisa sakit ketika mengetahui dia sakit. Bisa menangis ketika melihatnya sedih. Selalu ingin tahu segala hal tentangnya. Apa kabarnya hari ini? Apa dia tidur nyenyak semalam? Bagaimana sarapannya? Ya, hal kecil yang bahkan membuat otak berpikir keras. Melakukan segala cara untuk membuatnya dekat, atau untuk sekedar membuatnya duduk beberapa menit bersamamu! Ya, dulu begitu!

Dulu, merasa melayang bahkan hanya ketika dia membalas pesan atau ketika dia mengangkat telfon! Merasa melambung ketika dia balik menanyakan kabarmu! Merasa akan hidup lebih lama ketika mendengarnya tertawa diseberang sana! Paling tidak, kau ada dipikirannya untuk beberapa menit. Ya, dulu begitu!

Hari ini! Setelah bertahun-tahun berlalu, ternyata sudah tidak ada yang tersisa. Ketika sebuah pesan darinya masuk ke kotak pesan, hanya dibaca sekilas, untuk setelahnya menangguhkan membalasnya. Butuh beberapa menit hingga akhirnya tersadar bahwa semua telah berubah. Kalaulah pesan ini datang delapan atau sembilan tahun lalu, atau lima atau enam tahun lalu, atau bahkan dua atau tiga tahun lalu, tentu akan mendapat sambutan berbeda. Akan ada kamar yang gedebak gedebuk karna lonjakan senang. Akan ada pekikan tertahan bahagia, atau bahkan tarian perayaan kemenangan. Ya, itu akan terjadi seandainya ini datang lebih cepat. Tapi hari ini, tidak ada apa-apa. Tidak ada jantung yang berdebar-debar, tidak ada tangan penuh keringat yang terburu-buru membalas pesan, tidak ada nyanyian kecil ataupun senyum bahagia yang tidak tau kapan akan hilang. Semua biasa saja, bahkan tak kalah biasa dari mendapat pesan singkat dari operator seluler. Ya, hari ini begitu!

Hari ini, mulai berpikir apa yang terjadi dengan perasaan? Ada apa dengan hati? Perasaan yang dulu dirasa begitu kuat dan kokoh. Hati yang dulu dirasa begitu keras mempertahankan. Hari ini menyerah dengan bahagianya. Semua biasa saja! Bahkan ketika kau mulai mencari getaran dihatimu. Ayo hati, bergetarlah barang sedikit! Tidak berhasil lagi!

Masihkah kau mempertanyakan kekuatan waktu? 


Kamar kehidupan, June 21st 2015 

Turut bahagia untuk sepotong hati yang akhirnya berhasil melepaskan dengan ikhlas. You're on the right path, never look back!

Links to this post
0

Kau, aku dan secangkir kopi... [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' on Monday, August 24, 2015 in , , , ,


Bismillah....

“It’s not over yet, huh?” tanyaku sambil memainkan cangkir kopi dihadapanku, yang isinya sudah dingin. Sudah 20 menit dia duduk didepanku, dan satu-satunya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah ‘Aku tidak lapar’ ketika aku menanyakan dia mau makan apa.
“What, what?” dia mengangkat wajahnya, setengah berpikir. Akhirnya aku berhasil menarik perhatiannya. 
“Your dream! Your missions! Or whatever you call it!” 
“.....................” dia menatapku intens. Membuatku berpikir apa aku salah bicara, lagi?
“I meant, can you stop all these crazy things? And start focus on yourself? I meant, your real self? And people around you, maybe?”
“Kau menyuruhku menyerah?”
“Ya!” jawabku tegas. Aku sudah benar-benar muak dengan semua yang terjadi padanya. Semua hal buruk dan keras kepalanya dia untuk tetap mempertahankannya.
“....................” dia hanya diam menatapku. Tampak berpikir – seperti biasa. Dan aku sudah tidak peduli lagi apa yang dipikirkannya.
“Tidakkah kau lelah?” tanyaku pelan. Oke, aku yang terdengar lelah sekarang.
“Tidak! Atau kau?” tanyanya penuh selidik.
“Ya! Aku lelah!” jawabku akhirnya. 
“..........................”
“Melihatmu berjuang mati-matian seperti itu, disakiti, jatuh, ataupun menangis berhari-hari. Tapi tetap saja kau tidak mengenal kata takut apalagi menyerah. Ya, itu semua membuatku lelah.” 
“...........................” dia masih diam. Menatapku dengan tatapan penuh tanya.
“Tidak bisakah kau berdamai dengan hidupmu? Berdamai dengan semua yang dapat kau raih dan yang tidak? Menerima jalan yang ada dihadapanmu sekarang? Tanpa melakukan apa-apa lagi untuk merubahnya? Tanpa memperjuangkan apapun lagi?” aku tak bisa menahan diri lagi. Dia menderita, semua orang tahu itu. Dia satu-satunya yang tidak mengetahuinya. Dasar bodoh.
“What the hell do you wanna say?” suaranya rendah dan dalam, membuatku kembali berpikir ‘apa yang kukatakan ini benar?’
“.............” aku tak tau jawaban seperti apa yang bisa kuutarakan dihadapannya.
“Tidak bisakah kau berhenti sekarang?” lanjutku akhirnya. “Berhenti dan hidup sebagaimana yang lainnya hidup?”
“Maksudmu, menyerah?” 
“Ya, kalau itu kalimatmu!” kuaduk kopiku – gugup. Aku tidak salah, bukan? Aku melakukan hal benar, bukan? Aku hanya ingin melakukan hal terbaik untuknya. 
“Apa aku benar-benar semenyedihkan itu?” suaranya nyaris tak terdengar.
“No! Of course not!” aku gelagapan. Aku benar-benar ingin membenturkan kepalaku ke tembok sekarang, kenapa sebodoh ini? Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah seharusnya aku mendukungnya? Menyemangatinya? Mengatakan semua baik-baik saja, kau bisa mengatasinya, semua akan berlalu, ada aku disini! ya, bukankah ini yang seharusnya kukatakan? Dia sedang terpuruk, dan aku malah memperburuk keadaan! Benar-benar bodoh!
“Aku masih bisa bertahan ketika semua orang menyuruhku menyerah. Bahkan ketika mereka mengatakan aku anak tidak tau diuntung, aku hanya benalu bagi orang-orang disekitarku, aku masih tidak apa-apa!” suaranya tercekat. “Aku tetap merasa kuat dan merasa bisa menghadapi semuanya. Seperti apapun orang diluar sana menilaiku, aku tidak peduli. Karena aku tau aku punya seseorang yang selalu ada dipihakku. Selalu disampingku tak peduli apapun. Seseorang yang selalu membuatku kuat! Dan juga alasan kekuatanku selama ini!” matanya berkaca-kaca.
“Aku tidak bermaksud..” 
“Kalau sekarang bahkan seseorang itu juga mulai mempertanyakan kewarasakanku. Memintaku menyerah. Apa yang harus kulakukan?” butiran bening mengalir dipipinya. Aku selalu sakit melihatnya kesakitan. Ikut terluka ketika dia terluka. Turut terhina ketika dia dihina. Selalu hancur ketika dia hancur. Tapi rasanya tidak pernah separah ini. Apa yang harus kulakukan? Ya, ini menjadi kalimatku sekarang. Apa yang harus kulakukan untuk mengembalikan keadaan ini?
“Yakk! Apakah cuma begini saja kau memperjuangkan mimpimu? Dasar bodoh!” aku tidak tau apa yang ada di otakku hingga akhirnya kalimat ini yang keluar dari mulutku.
“Eh...?” dia kebingungan – tentu saja.
“Ckk, bahkan baru digertak sedikit saja kau sudah menyerah! Bodoh!” aku melanjutkan aksiku, sementara menyiapkan mental menerima ledakan amarahnya.
“Kau, hanya, menggertakku?” tanyanya pelan. Aku hanya mengangguk, waswas. “Tapi kau tidak seperti sedang menggertak!” dia menatapku, tatapan menilai.
“Aktingku sudah ada kemajuan bukan? Hahaa! Sudah kubilang aku berbakat! Sepertinya aku harus menghubungi produser yang hari itu!” Ya, kali ini aku berakting, saat ini.
 “Ya ampun apa kau tau aku ketakutan?” dia menepuk tangannya sekali, menandakan suasanya hatinya sudah berubah, lalu menyesap kopinya – tampak lega. “Wah, rasa kopiku benar-benar pas!” ujarnya pada diri sendiri. What? Segini saja? Tidak ada cangkir atau sepatu yang melayang? Atau gebrakan meja, barangkali?
“Kau tidak, marah?” tanyaku takut-takut. Dia melotot kearahku.
“Kau tau? Kau benar-benar seperti kopi!” 
“Eh.....?”
“Seperti kopi ini, tidak masalah bagiku jika ini hanya air dan kopi. Aku masih bisa menikmatinya. Tapi aku tidak akan sanggup meminumnya jika ini hanya air dan gula!”
“Eh.....?” dia hanya tersenyum sambil melemparkan pandangannya kejalanan diluar. Sementara aku berpikir keras memahami perkataannya.
“Jadi, aku kopi?” tanyaku setelah beberapa detik.
“Ya! Pahit!” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun kearahku, masih melihat ke jalanan, masih tersenyum.
“Tapi banyak yang suka kopi pahit, asal kau tau!” balasku, yang bahkan aku tidak mengerti kenapa aku harus membela diri dihadapannya.
“Yeahh,,, Me too!” aku tersenyum mendengar jawabannya. 
“Krimer?” tanyaku mendadak.
“Eh....?”
“Siapa yang jadi krimermu?”
“............” dia menatapku bingung, matanya menyipit. See? Bahkan untuk pertanyaan iseng seperti ini saja dia berpikir keras! Dasar bodoh! “Aku selalu mendapatkannya sepaket dengan kopiku!” jawabnya, lalu menyesap habis kopinya. 
“..............” aku tidak bisa merespon ucapannya. Pikiranku melayang entah kemana.
“Yaakk! Apa kau mau nginap disini?” kudengar suaranya meninggi. Kuperhatikan sekeliling, sudah mau tutup rupanya. “Kau yang bayar!” ujarnya sambil berdiri dan melangkah keluar, meninggalkanku yang masih melongo.
“What? Bukankah minggu ini giliranmu? Yaakk!” 

Kamar kehidupan, June 04th 2015 @ 08.42pm
Dedicated to someone out there who just said "Sekali-kali dengerin gua kek!" But then said "Ok, you won!" Hahaaaa... For standing there no matter what, thanks... 


Links to this post
0

For man who just cracked inside [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' on Monday, August 24, 2015 in , , , ,


Bismillah....

"Gua capek!" ujarnya setelah hening yang panjang. Dia datang bilang mau cerita, tapi sudah belasan menit berlalu dan tidak ada kalimat berarti yang keluar dari mulutnya. Dan kalimat ini adalah kalimat pertamanya sejak aku bertanya 'Loe kenapa?' beberapa menit lalu. Matanya menerawang jauh, terlihat lelah. Aku hanya menatapnya heran. Capek? Sejak kapan kata ini ada dalam kamusnya? "Gua gag boleh bilang capek ya?" tanyanya seolah tau isi otakku. 

"Bukan! Tentu aja boleh, tapi aneh aja....!" 

"Barusan nelfon bokap. Dan seperti biasa, endingnya selalu menjungkirbalikkan emosi gua!"

".........." aku hanya diam. Sangat mengerti hubungannya dengan sang ayah. 

"Loe tau gua orang hebat bukan? Gua kuat! Tangguh! Keras! Tak terkalahkan, bukan? Tapi hari ini gua bener-bener capek! Lelah!"

".........." lagi-lagi aku hanya diam. Aku tau, diam satu-satunya hal terbaik yang bisa kulakukan untuknya.

"Hari ini gua kembali berpikir, mestinya dulu gag begini. Mestinya dulu bokap bisa mempertahankan kami, anak-anaknya. Gag seenaknya memberikan kami ke siapa itu entah siapa. Jadi minimal gua masih punya sesuatu yang disebut keluarga. Masih punya rumah!" suaranya makin menghilang. Dan aku masih diam. Dia, sosok paling kuat yang pernah kutemui. Aku tidak pernah mendengar dia mengeluh atau berputus asa atas semua yang menimpanya. Apapun yang terjadi dia tetap saja kuat tak tergoyahkan. Bahkan terkadang nyaris terlihat tidak punya hati, tidak punya perasaan saking teguhnya.
Hidupnya tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Hidup sendiri, tanpa keluarga, tanpa rumah, hanya beberapa teman yang datang dan pergi seiring waktu, dan aku - tentu saja. Aku selalu saja sedih setiap kali dia bercerita akan hiking lebaran kali ini, atau akan mencoba diving dan snorkeling di lebaran yang lain. Setiap liburan semester dihabiskan dengan komunitas pencinta alam, bertualang ke pelosok negeri. Atau terkadang kursus bahasa Jepang dan Rusia - ketika rajin. Terlihat seru? Mungkin! Tapi aku tau ini hanya pelarian dari perasaan hampa dan kosongnya. Ini jauh lebih baik dibanding harus menghabiskan waktu sendirian di kost. Bagiku, terlihat menyedihkan - walau aku tak pernah mengutarakannya. Satu hal yang membuatku lega selama ini adalah dia tidak pernah mengasihani dirinya sendiri. Tidak pernah merutuki nasib hidupnya. Dia menjalaninya dengan enjoy, terlihat jauh lebih bahagia dan menikmati hidup dibanding aku yang bisa dikatakan memiliki segalanya. Tapi hari ini, mendengarnya mengatakan lelah benar-benar membuatku ikut hancur. Selama ini dia tidak sebahagia yang terlihat, bukan? "Gua juga pengen ngerasain punya keluarga, dekat dengan kakak dan adek gua! Bisa cerita apapun ke mereka! Gua juga pengen ngerasain homesick! Kangen rumah, kangen kampung. Kangen masakan orang rumah. Kangen mudik. Kangen pulang. Atau minimal gue tau kemana harus pulang! Punya tempat kembali!" tubuhnya berguncang. Dan aku tak kalah terguncang mendengar pernyataannya. Kuraih bahunya, menepuk perlahan. 

"It's okay!" bisikku pelan, sama sekali tak yakin dengan ucapanku sendiri.

"It's not okay! Never be okay!" jawabnya nyaris tak terdengar. Ya, aku tau! Ini sama sekali tidak baik-baik saja. Dia, sahabatku, aku mengenalnya sejak belasan tahun lalu. Aku mengetahui hampir semua yang terjadi dalam hidupnya. Tahu siapa cinta pertamanya, bahkan tahu kapan gigi pertamanya copot. Tapi hari ini aku merasa sama sekali tidak mengenalnya. Selama ini dia menderita dan aku sama sekali tidak tahu. Teman macam apa? 

Kembali kutepuk punggungnya, "Gua disini, seperti biasa! Selalu dipihak loe!" hanya ini yang bisa kukatakan. Hal yang selalu dikatakannya setiap kali aku terpuruk.

Dia menatapku sebentar, lalu tersenyum. "Gua tau!" Lalu dia mulai mengurai sakitnya. Sakit yang selama ini tak mampu kulihat.


Home, July 09th 2015

Dedicated to my best friend who cracked inside. Am here, as always. Always on your side, keep watching your journey. Stay cool! Stay stronger! You're granted this life coz you're strong enough to live it, remember? 
And you're the strongest man I've ever met! 
Congratulation, anyway!



Links to this post
0

Duet Nulis bareng Nyukik.. [Repost from fb]

Posted by Deslani Khairunnisa' on Sunday, August 23, 2015 in , ,


Authors: Deslani Khairunnisa’, Rizky Abdillah
Editor: Deslani Khairunnisa’


“Kamu tidak bisa seperti ini terus!” laki-laki itu menatap perempuan didepannya sambil mendengus kesal. Sementara yang ditatap sedang sibuk mengunyah makanannya, entah mendengarkan entah tidak.
“Kau tidak mendengarku?”
“Umm??” perempuan itu mengangkat kepalanya dengan mata lebar, lalu mengerjap beberapa kali. “Kau harus coba ini!” ujarnya cepat sambil menaroh sepotong paru goreng ke sudut piring laki-laki itu – yang bahkan isinya masih utuh.
“Kenapa kau selalu seperti ini?”
“Seperti apa?” acuh tak acuh perempuan itu malah balik bertanya.
“Oke...” laki-laki itu menghela napas panjang sambil memperbaiki posisi duduknya. Dia tau sekeras apa kepala makhluk dihadapannya. Perempuan ini tak bisa dihadapi dengan cara seperti ini. “Ini terakhir kalinya aku mendengar kau tak makan dua hari!”
“Good! Artinya kita akan terus makan bersama!” mata si perempuan berbinar disertai anggukan mantap – seolah dia baru saja menyimpulkan sesuatu dari perdebatan alot.
“Yaaaakkk! Kau belum paham juga? Kau tak bisa terus-terusan seperti ini. Bagaimana mungkin kau tak makan dua hari hanya karena kau tak punya teman makan?”
“Mungkin saja...” suara perempuan itu nyaris tak terdengar. Sementara fokusnya masih pada piring dihadapannya.
“Aiishh...” laki-laki itu mengacak rambutnya frustasi. “Oke! Dengar! Kau tak boleh melewatkan jam makanmu begitu saja! Kau harus tetap makan apapun yang terjadi! Sekalipun semua orang disekelilingmu jadi bangkai kau harus tetap makan. Mengerti?”
“.............” perempuan itu hanya menatap si laki-laki dengan malas.
“Kau sudah dewasa! Kau sudah bukan............”
“Kau kan tau aku tak bisa makan jika tak ada seseorang disampingku!”
“Yaakk, kau harus merubah sifat konyolmu itu! Kau tau ada sangat banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan? Kau harusnya....”
“Ayolah, jangan marah begitu! Aku juga tak bisa makan jika seseorang berteriak didepanku!”
“Aisshh... Anak ini! Tak bisa makan apanya? Lihat! Kau bahkan menghabiskan jatahku juga!”
“Owwh...” perempuan itu menatap sekitar dengan malas. “Ini hanya masalah kecil bukan? Hanya masalah makan? Kenapa kita harus berantem hanya gara-gara ini? Memalukan sekali!”
“Yaaakkk!!! Apanya yang masalah kecil? Lagian ini bukan tentang makanannya! Tapi kau? Kau harus tetap hidup tak peduli apapun! Kau harus makan dengan benar! Hidup dengan baik!”
“Aku makan dengan benar sekarang!”
“Ayolahh... Aku serius!” laki-laki itu mengusap pelipisnya putus asa. “Kau tau aku tak bisa terus menemanimu seperti ini!”
“Kenapa tidak?”
“Aku juga punya pekerjaan! Punya kehidupan! Kau tak bisa mendadak menelfonku dan minta ditemani makan!”
“Aku tak menelponmu, kalau kau lupa!”
“Yaa,, bukan kau! Tapi sekretarismu yang melakukannya!”
“Salahkan dia!”
“Hhhhhh... Kenapa kau begitu keras kepala?”
“Untuk melindungi otakku yang begitu encer!” perempuan itu menjawab ringan sambil mengangkat bahu. “Apa boleh buat!” Samar, laki-laki dihadapannya tersenyum geli. Dia selalu saja tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa dari selera humor makhluk didepannya itu. Dari semua orang kenapa perempuan aneh gila ini yang masuk dalam kehidupannya? Tak adakah perempuan yang sedikit lebih normal? Yang punya sifat biasa-biasa saja?
“Baiklah! Dengarkan aku! Aku tau sulit bagimu untuk makan sendiri! Tapi kau harus berusaha! Oke? Setidaknya kau harus mencoba melakukan improvisasi! Kau bisa makan dengan teman-temanmu! Kau bisa..........”
“Aku tak punya teman!” bantahnya ringan.
“Karyawanmu?”
“Yang perempuan sering diet tanpa makan, dan aku tak boleh makan dengan laki-laki lain!” lagi-lagi perempuan itu mengangkat bahu.
“Aiishh... Atau kau bergabung saja dengan rombongan lain di meja mereka!”
“Menurutmu mereka tidak akan menendangku?”
“Kalau begitu kau ambil meja paling sudut saja! Setidaknya ada orang-orang disampingmu dan kau tak akan ditendang.”
“Sudah kukatakan, aku benci makan sendirian! Bukan! Tapi tak bisa! Apalagi di rumah makan! Menyedihkan sekali makan sendirian sementara semua orang memenuhi meja makan!”
“Ya sudah! Kalau begitu kau makan dirumah saja!”
“Arrgghh.. Kupikir kau sudah paham! Ternyata belum juga! Baiklah! Biar kujelaskan lagi! Akan lebih menyedihkan makan sendirian dirumah! Semua orang pulang kerumah dan meja makan akan hiruk pikuk karena keluarga mereka. Dan aku apa kabar? Well, aku sedang melakukan hal besar bagi kelangsungan hidup umat manusia di bumi! Makan sendiri!” perempuan itu menekankan kata terakhirnya.
“Kau bisa makan sambil menyalakan tivi!”
“Apa kau tidak tau? Bahkan di tivi saja orang-orang makan bersama!”
“Aiiiishhhh.... Kenapa kau ribet sekali?”
“Kau satu-satunya yang ribet disini!”
“Ayolah, ini hanya masalah makan! Kenapa kita selalu...”
“Ini karena kau tak tau rasanya hidup sebatang kara!”
“Aiiiishh.. Tak ada hubungannya! Aku juga tinggal sendiri! Makan sendiri! Bahkan aku makan dengan lahap. Gag ada masalah! Semua baik-baik saja!”
“Dasar tak punya perasaan!”
“Yaaakkk,, ini tak ada hubungannya dengan perasaan!”
“Hufffttt.... Tentu saja ada. Tapi ya,,, kau tak akan mengerti! Sudah kuduga, perasaanmu dangkal.”
“Kau bilang apa?”
“Begini saja! Kau hanya perlu menemaniku makan sekali sehari! Dengan begitu aku akan tetap makan setiap hari! Deal?”
“Kau gila! Sudah kukatakan aku tak bisa menemanimu setiap hari!”
“Aiissshh... Aku heran kenapa kau juga keras kepala, padahal otakmu tidak encer!”
“Yaaaakkk...”
“Baiklah, aku sudah selesai! Kau bisa pergi sekarang!”
“Aiiisshhh.. Aku bahkan belum makan dan kau sudah mengusirku! Benar-benar perempuan..”
“Kalau begitu makanlah! Aku yang pergi!” perempuan itu memasukkan ponselnya kedalam tas tangan miliknya.
“Yaaakkk.. Kau menyuruhku makan sendirian?”
“Bukankah akan lebih lahap?” lagi-lagi wajah polos tanpa dosa.
“Aiiishhh... Setidaknya kita keluar bersama!”
“Sudah kubilang makan sendiri itu tidak menyedihkan!”
“Ini bukan karena makan sendiri! Apa kata mereka ketika melihatku makan dengan lahap setelah ditinggalkan seorang perempuan di meja makan? Aku harus tetap mempertahankan image kerenku!”
“Jiahh.... Cepatlah makan! Aku juga punya urusan lain!”
“Aiishh.. Anak menyebalkan ini! Sudah bosan hidup rupanya!”
“.....................”
“Jadi bagaimana???”
“Apanya?”
“Jadwal makanmu!”
“Kau datanglah ketika lapar! Karena ketika itu aku juga pasti sedang lapar!”
“Aiiishhh... Kepalamu terbuat dari apa?”
“........................” lagi-lagi ia hanya mengangkat bahu.
“Bagaimana kalau aku tak bisa?”
“Ehh?”
“Aku tak bisa datang setiap hari?”
“Sederhana saja! Aku akan makan saat kau datang! Apa boleh buat!”
“Yaaakk........”
“Cepat habiskan makananmu! Aku juga punya kehidupan lain! Apa kau pikir waktuku hanya untuk menemanimu makan?”
“Yaaaakkk... Aku seharusnya yang mengatakan hal itu!!”



Pekanbaru – Nagasaki, 28 September 2014 
Ya, hasil duet nulis abal-abal dengan salah seorang sahabat. Sebenernya jauh lebih kompleks dan heboh daripada ini.. Kalau kalian merasa tulisan ini agak keren, itu karena editornya terlampau keren... haaaa.. *kibas rambut*


Links to this post
0

Just stay there, then.... [Repost]

Posted by Deslani Khairunnisa' on Sunday, August 23, 2015 in , ,


Bismillah....

“Kau mulai merasakannya?” tanyanya sambil meregangkan tubuhnya. Dia berdiri membelakangiku, sekitar dua meter didepanku.
“Apanya?” tanyaku bingung.
“Ketakutan!” dia berbalik kearahku. “Akan semuanya!”
“Eh?”
“Kau mulai merasakannya, bukan?” dia sudah duduk disampingku.
Aku tercekat.
“Perlukah kita lari?” tanyanya setelah sekian lama. Aku hanya menatapnya bingung. “Kalau terlalu berat, aku bisa membawamu pergi!”
“Tunggu! Apa kau sedang mencoba membuatku menyerah?”
“Hahaa,, See? Kau ketakutan!” dia tertawa tanpa rasa bersalah.
“Ti-tidak..”
“Kau selalu berburuk sangka ketika takut!”
“A-aku hanya.......”
“Bukan masalah menyerah atau tetap bertahan. Tapi dirimu! Dengan semua yang sudah kau korbankan! Semua kesempatan yang kau lepaskan! Semua sakit yang kau tanggung, dan juga kau tularkan ke orang-orang disekitarmu, apa kau bahagia?”
Aku tercekat, lagi-lagi. Rasanya sakit mendengar semua kebenaran itu. “Kau tau aku benci diceramahi!” ujarku datar – akhirnya.
“Well... Berburuk sangka lagi!” dia tersenyum – mengejek.
“Aku bilang aku tidak..........”
“Aku hanya tidak bisa melihatmu lebih sakit lagi!” ujarnya lemah. Aku menangkap kelelahan dalam suaranya.
“Kau bisa pergi kalau begitu!” entah apa yang ada di pikiranku sehingga kalimat ini yang akhirnya keluar dari mulutku.
“......... Hahahaaa...” dia terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa keras. “Sekarang kau yang mencoba membuatku menyerah! Hahaaa...” dia menggulung lengan kemejanya dan mulai berbaring diatas rerumputan dibawahnya. “Waahh. Cuaca yang bagus! Apa kita harus berkebun?” tanyanya riang.
Aku tersenyum, paham. “Sounds good!”

Kamar kehidupan, March 07th 2015
Terkadang, ada kata yang tidak perlu diucapkan. Ada persoalan yang tidak harus dibahas. Ada masalah yang tidak butuh penyelesaian. Semua yang dibutuhkan adalah seorang sahabat untuk mengerti, tidak banyak bertanya dan tidak pernah meninggalkan. For staying here, thanks! 


For original sourse, click here


Links to this post
0

Missing Home... -_-

Posted by Deslani Khairunnisa' on Saturday, August 22, 2015 in , ,



Bismillah...

Mendadak kangen rumah. Ya, sudah delapan hari sejak aku meninggalkan rumah sejak libur lebaran lalu, setelah sebulan lebih menghabiskan waktu dirumah. Ya, ini liburan terpanjang yang kudapatkan sejak tujuh tahun terakhir. Alhamdulillah...

Sekarang ingin sekali rasanya menelfon rumah, tapi kurasa bukan keputusan yang bagus. Biarkan suasananya mereda sejenak. Paling tidak, biarkan aku siap menghadapi mereka!

Kau tau kebohongan yang sering kulakukan? Ya, kebohongan kepada keluargaku. Sudah tidak terhitung jumlahnya. Beberapa tahun lalu aku dan adikku mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan biasa, ini kecelakaan terparah yang pernah kualami yang membuat retak tempurung lututku, yang butuh sebulan untuk penyembuhan, yang bahkan (ternyata) setelah enam bulan aku masih belum bisa berlari dengan benar. Dan orang rumah (ibu dan kakak keduaku) mengetahuinya setelah sekitar dua minggu pasca kecelakaan. Kami tetap berkomunikasi, masih rutin menelfon, sekalipun aku sedang menggigit bantal menahan sakit.

Beberapa waktu lalu aku kehilangan uang dalam jumlah yang cukup besar, cukup untuk membayar uang kuliah satu semester. Aku benar-benar kehilangan akal harus bagaimana, dan akhirnya tetap mengadu ke mereka, tapi dengan sedikit modifikasi cerita. Aku mengatakan seorang teman sangat butuh uang dan aku meminjamkannya. Insya Allah akan dikembalikan dalam 4 – 5 hari, ujarku kala itu. Ibuku (seperti biasa) tentu saja menyayangkan keputusanku. Kenapa uang malah dipinjamkan disaat sulit begini? Apa benar teman kamu itu jujur? Bagaimana kalau tidak dikembalikan lagi? Ya, aku sering ditipu sebelumnya! Tapi akhirnya aku berhasil meyakinkan mereka. Abah kembali mengirimiku uang! Dan lima hari setelahnya (setelah honor CI dari kampus cair) aku mengatakan kalau temanku sudah mengembalikannya. Tentu saja honor CI hanya sekian persen dari uang yang hilang, tapi aku yakin keluargaku tidak akan meminta aku mengembalikan uang yang kuminta beberapa hari lalu. Dan benar, ibuku lega dan bilang ‘Hemat-hematlah uang itu! Simpan aja untuk keperluan kamu!’ Problem solved, right?

Begitu juga beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu, 15 Agustus 2015, aku merasakan juga dijambret. Sedikit menyebalkan, karena yang dijambret adalah smartphone-ku. Bukan smartphone termahal yang pernah kumiliki, tapi bisa dikatakan yang tercanggih. Heheee... Waktu itu aku siap menjemput Joe ke sungai pagar. Ya, dia ingin menghabiskan libur tujuh belasannya bersamaku, seperti biasa. Ketika sampai dirumah, hal pertama yang kukatakan ke adik dan sepupuku adalah ‘Jangan sampai orang rumah tau!’ Akupun mengingatkan Joe agar jangan sampai keceplosan pas nelfon. Kalian tau, apa yang diharapkan dari seorang bocah delapan tahun? Berharap dia berbohong? Aku tidak yakin Joe bisa melakukannya. Tapi setidaknya dia berhasil! Ketika kepondok, dan keponakanku dipondok bicara dengan orang rumah melalui telfon, informasi mengenai ponselku hilang masih terselamatkan. Kami semua punya visi yang sama, tidak ingin membuat orang rumah sedih! Kepada kakakku yang di Sungai Pagar-pun aku berpesan hal yang sama ‘Tolong jangan sampai keceplosan! Jangan sampai orang rumah tau!’

Apa mereka tidak bertanya kenapa nomorku tidak aktif? Tentu saja! Dua hari pertama aku mengatakan aku lupa men-charge ponsel. Dan mereka percaya! Dan hari selanjutnya aku mengatakan kartuku rusak. Dan mereka juga percaya!

Semuanya aman terkendali sampai dua hari yang lalu. Hari itu aku baru bisa keluar mengurus kartu simpatiku ke grapari. Begitu mengeluarkan motor dari garase, aku mendadak punya perasaan aneh. Sesuatu yang buruk akan terjadi! Aku kembali kedalam dan berpesan kepada Bude ‘Jangan sampai keceplosan ya Bude! Mana tau ntar orang rumah nelfon ke Bude!’

Tapi qadarullah, hari itu abang iparku menelfonku dan mendapati nomorku tidak aktif. Beliau akhirnya menelfon adikku. Dan demi apa adikku yang sedang kerja, yang biasanya tidak pernah bisa mengangkat telfon hari itu mengangkatnya, dan dia memberikan nomor Bude ke abang (karena masih berpikir aku dirumah). Dan disinilah kekacauan bermula, Bude keceplosan (seperti biasa). Dan abang iparku sangat tanggap (seperti biasa), langsung menelfon rumah. Qadarullah, ibuku yang mengangkat telfon. Itu yang aku tau! Hari itu aku menangis seharian. Ya, aku tak boleh membawa kekecewaan lagi pada mereka. Aku masih biasa-biasa aja sejak kemaren. Ponselku ilang, ya sampai disitu saja rejekiku bersamanya! Cukup sampai disitu. Aku tidak menangis, tidak seperti ketika aku kehilangan laptop dua tahun lalu. Hari ini aku masih baik-baik saja! Percaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, entah dalam bentuk apa! Tapi tetap saja aku lemah ketika menghadapi kekecewaan mereka. Kalian tau? orang rumah hanya boleh tau semua kabar menggembirakan. Aku lulus ujian, aku dapat A, aku dapat kerjaan, aku gajian, aku menang lomba menulis, aku lolos beasiswa, mereka hanya boleh tau hal-hal semacam itu. Motorku mogok dijalan, tanganku terkilir, aku kecelakaan, aku sakit, aku ngulang ujian, aku kehilangan uang, mereka tidak boleh tau!

Dan sejak insiden ‘orang rumah tau’ tersebut aku belum bicara dengan mereka. Kakak tidak menelfonku, mungkin marah karena aku tidak memberitahunya. Tapi baguslah, minimal aku tidak punya beban dengan menangguhkan panggilan dari mereka.


Kamar kehidupan, August 22nd 2015

Missing home.. -_-

Links to this post

Copyright © 2009 Peace Zone All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.