Saturday, August 22, 2015

Missing Home... -_-

Posted by Deslani Khairunnisa' at Saturday, August 22, 2015

Bismillah...

Mendadak kangen rumah. Ya, sudah delapan hari sejak aku meninggalkan rumah sejak libur lebaran lalu, setelah sebulan lebih menghabiskan waktu dirumah. Ya, ini liburan terpanjang yang kudapatkan sejak tujuh tahun terakhir. Alhamdulillah...

Sekarang ingin sekali rasanya menelfon rumah, tapi kurasa bukan keputusan yang bagus. Biarkan suasananya mereda sejenak. Paling tidak, biarkan aku siap menghadapi mereka!

Kau tau kebohongan yang sering kulakukan? Ya, kebohongan kepada keluargaku. Sudah tidak terhitung jumlahnya. Beberapa tahun lalu aku dan adikku mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan biasa, ini kecelakaan terparah yang pernah kualami yang membuat retak tempurung lututku, yang butuh sebulan untuk penyembuhan, yang bahkan (ternyata) setelah enam bulan aku masih belum bisa berlari dengan benar. Dan orang rumah (ibu dan kakak keduaku) mengetahuinya setelah sekitar dua minggu pasca kecelakaan. Kami tetap berkomunikasi, masih rutin menelfon, sekalipun aku sedang menggigit bantal menahan sakit.
Beberapa waktu lalu aku kehilangan uang dalam jumlah yang cukup besar, cukup untuk membayar uang kuliah satu semester. Aku benar-benar kehilangan akal harus bagaimana, dan akhirnya tetap mengadu ke mereka, tapi dengan sedikit modifikasi cerita. Aku mengatakan seorang teman sangat butuh uang dan aku meminjamkannya. Insya Allah akan dikembalikan dalam 4 – 5 hari, ujarku kala itu. Ibuku (seperti biasa) tentu saja menyayangkan keputusanku. Kenapa uang malah dipinjamkan disaat sulit begini? Apa benar teman kamu itu jujur? Bagaimana kalau tidak dikembalikan lagi? Ya, aku sering ditipu sebelumnya! Tapi akhirnya aku berhasil meyakinkan mereka. Abah kembali mengirimiku uang! Dan lima hari setelahnya (setelah honor CI dari kampus cair) aku mengatakan kalau temanku sudah mengembalikannya. Tentu saja honor CI hanya sekian persen dari uang yang hilang, tapi aku yakin keluargaku tidak akan meminta aku mengembalikan uang yang kuminta beberapa hari lalu. Dan benar, ibuku lega dan bilang ‘Hemat-hematlah uang itu! Simpan aja untuk keperluan kamu!’ Problem solved, right?

Begitu juga beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu, 15 Agustus 2015, aku merasakan juga dijambret. Sedikit menyebalkan, karena yang dijambret adalah smartphone-ku. Bukan smartphone termahal yang pernah kumiliki, tapi bisa dikatakan yang tercanggih. Heheee... Waktu itu aku siap menjemput Joe ke sungai pagar. Ya, dia ingin menghabiskan libur tujuh belasannya bersamaku, seperti biasa. Ketika sampai dirumah, hal pertama yang kukatakan ke adik dan sepupuku adalah ‘Jangan sampai orang rumah tau!’ Akupun mengingatkan Joe agar jangan sampai keceplosan pas nelfon. Kalian tau, apa yang diharapkan dari seorang bocah delapan tahun? Berharap dia berbohong? Aku tidak yakin Joe bisa melakukannya. Tapi setidaknya dia berhasil! Ketika kepondok, dan keponakanku dipondok bicara dengan orang rumah melalui telfon, informasi mengenai ponselku hilang masih terselamatkan. Kami semua punya visi yang sama, tidak ingin membuat orang rumah sedih! Kepada kakakku yang di Sungai Pagar-pun aku berpesan hal yang sama ‘Tolong jangan sampai keceplosan! Jangan sampai orang rumah tau!’

Apa mereka tidak bertanya kenapa nomorku tidak aktif? Tentu saja! Dua hari pertama aku mengatakan aku lupa men-charge ponsel. Dan mereka percaya! Dan hari selanjutnya aku mengatakan kartuku rusak. Dan mereka juga percaya!

Semuanya aman terkendali sampai dua hari yang lalu. Hari itu aku baru bisa keluar mengurus kartu simpatiku ke grapari. Begitu mengeluarkan motor dari garase, aku mendadak punya perasaan aneh. Sesuatu yang buruk akan terjadi! Aku kembali kedalam dan berpesan kepada Bude ‘Jangan sampai keceplosan ya Bude! Mana tau ntar orang rumah nelfon ke Bude!’

Tapi qadarullah, hari itu abang iparku menelfonku dan mendapati nomorku tidak aktif. Beliau akhirnya menelfon adikku. Dan demi apa adikku yang sedang kerja, yang biasanya tidak pernah bisa mengangkat telfon hari itu mengangkatnya, dan dia memberikan nomor Bude ke abang (karena masih berpikir aku dirumah). Dan disinilah kekacauan bermula, Bude keceplosan (seperti biasa). Dan abang iparku sangat tanggap (seperti biasa), langsung menelfon rumah. Qadarullah, ibuku yang mengangkat telfon. Itu yang aku tau! Hari itu aku menangis seharian. Ya, aku tak boleh membawa kekecewaan lagi pada mereka. Aku masih biasa-biasa aja sejak kemaren. Ponselku ilang, ya sampai disitu saja rejekiku bersamanya! Cukup sampai disitu. Aku tidak menangis, tidak seperti ketika aku kehilangan laptop dua tahun lalu. Hari ini aku masih baik-baik saja! Percaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, entah dalam bentuk apa! Tapi tetap saja aku lemah ketika menghadapi kekecewaan mereka. Kalian tau? orang rumah hanya boleh tau semua kabar menggembirakan. Aku lulus ujian, aku dapat A, aku dapat kerjaan, aku gajian, aku menang lomba menulis, aku lolos beasiswa, mereka hanya boleh tau hal-hal semacam itu. Motorku mogok dijalan, tanganku terkilir, aku kecelakaan, aku sakit, aku ngulang ujian, aku kehilangan uang, mereka tidak boleh tau!

Dan sejak insiden ‘orang rumah tau’ tersebut aku belum bicara dengan mereka. Kakak tidak menelfonku, mungkin marah karena aku tidak memberitahunya. Tapi baguslah, minimal aku tidak punya beban dengan menangguhkan panggilan dari mereka.

Kamar kehidupan, August 22nd 2015
Missing home.. -_-

0 comments:

 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea