Thursday, April 19, 2012

Hidup?? Hm,, Komplit...

Posted by Deslani Khairunnisa' at Thursday, April 19, 2012

Bismillah...

Banyak banget yang pengen ditulis. Mulai dari hal sepele sampai hal-hal luar biasa yang terjadi dalam hidupku beberapa hari belakangan. Orang-orang penting dan berharga dalam hidupku, sampai orang-orang gag penting yang ikutan nimbrung dalam perjalanan hidupku. Mereka yang membuatku tertawa sampai sakit perut, sampai mereka yang membuat mataku bengkak karena menangis. Seperti tadi siang diparkiran, ketika Ukhti Daho memproklamirkan kebodohanku dengan lantang, “Eh, tau gag Lani titip apa? Ikan sotong! Huahuahahahaa...” Hehe,, aku ikutan ketawa ampe nangis. Maksud aku ikan laut itu lho ukh.. Yang ada ‘o’-nya... Arrgghh, sampe sekarang masih gag ingat namanya apa. Bodo ah.. Hehe..

Friday, March 02nd 2012
Aku mengangkat tanganku secepat dan setinggi mungkin. Lalu bersorak ketika moderator menyebut namaku sebagai salah satu dari 3 orang yang beruntung untuk bertanya pada 2 kelompok seminar di depan. Osteomielitis dan Gout Arthritis, pembahasan yang menarik-terutama bagi orang yang bermasalah dengan tulang-sepertiku.
“Kita persilakan kepada Saudara **** untuk bertanya duluan!” moderator memberi kesempatan pada seorang temen yang duduk persis disamping kananku.
“Baiklah.. Bla bla blablablablab...” Eh? Eh? Woi.. Do you know, what his question is? Where does he got his idea? Huh? Dia membacakan pertanyaan dari coretan catatanku yang memang terpampang jelas dihadapannya. Woi, it’s mine! Masya Allah.. dia kembali duduk dan berucap dengan santai-tanpa dosa, “Sori ya Lan!” dan aku menjawab dengan senyum-asem..
“Silakan penanya berikutnya, Saudari Deslani!”
“Pertanyaan Lani sama dengan pertanyaan sebelumnya. Kasih kesempatan pada temen-temen lain aja!” aku menjawab sambil menahan kekesalanku, dan selebihnya aku hanya diam. Yang ribut malah temen yang disamping kiriku yang tau persis itu pertanyaanku. “Garing kali anak tu! Sabar ya Lan..” “Nyante aja Rin.. Udah biasa!” dan aku tersenyum-kecut. Kesel? Pastilah.. Apalagi pas terakhir, dosen bilang “Bagus sekali ya pertanyaannya!” Wooii.. Itu pertanyaan gua!
Hhhh,,, ada juga masih ya orang kayak gini di 2012 ni. Kirain udah pada end.. Haha.. Udah biasa banget sih di-plagiat. Ama temen sendiri juga. Malahan ama orang-orang yang kurasa terpelajar dan berakhlak baik. Tapi yang terang-terangan didepan mataku gini? Alhamdulillah, baru sekali ini. Tanpa permisi, tanpa babibu.. Wuiisshh, keren.. plok, plok, plok.. Pemuda ‘kritis’ calon pemimpin negeri ini, yang kusebut ‘BANCI’.

Ahh, hidup. Aku masih belum berani mendefinisikan apa sebenernya hidup ini. Karena hidup gag sekedar bernapas, bergerak, dan berkembang biak seperti yang tercantum dalam buku IPA SD dulu. Hidup jauh lebih bermakna dari itu semua, tapi tergantung bagaimana kita memaknainya juga kan?
Butuh kekuatan untuk hidup. Dan bertahan adalah kekuatan utama, menurutku. Orang yang MAMPU bertahan adalah orang yang paling kuat dimataku. Nah, sekarang darimana kekuatan itu didapatkan? Dari sepiring nasi? Sebungkus lontong? Sekardus kuaci? Atau dari suplemen pendongkrak daya tahan tubuh yang bisa didapatkan di apotik depan rumah? Hhh,, well,, bener sih kekuatan bisa didapat dari situ. Ah, jadi ingat semester lalu. Disuatu pagi yang (hhhh) cukup berat untuk hari yang akan berat, dan aku telat ke kampus. Garase hampir kututup dengan sempurna ketika Uni berteriak dari dapur, “Udah sarapan?” “Belum.” Mampus! Entah angin apa yang membuatku jadi begitu jujur [gag seperti biasa-soal sarapan]. “Masuk! Sarapan!” perintah Uni tegas. “Yaahh, Uni.. Ani dah telat. Ntar aja dikampus!” “Masuk! Atau bawa sini kunci motor!” Glek. Oke, oke... “Mesin gag diisi. Udah tau kuliah ampe malam. Ntar kalo kamu tumbang siapa yang repot? Uni juga kan? Tau nggak... blablablaa.. “ dan pagi itu aku dapat materi kesehatan pencernaan 1 SKS.
Well, kembali ke awal tulisan ini, tentang hidup dan kekuatan! Kau bisa dapatkan kekuatan dimana saja. Dari sajadahmu, dari mushafmu, dari sobatmu, ibumu, ayahmu, keluargamu, dari perkataan teman lama yang sangat luar biasa, dari dosenmu yang membagi sedikit pengalaman hidupnya yang berharga, dari pemulung yang kau temui tiap subuh depan rumahmu, dari seorang ibu yang mendorong kursi roda anaknya sepanjang jalan, dari mereka yang menjahit sol sepatu di persimpangan jalan tanpa penglihatan, dari mereka yang berjalan tertatih ke mesjid ditemani tongkat lapuk penopang tubuhnya, dari manapun.. Allah menyisipkan kekuatan itu dalam segala hal. Sekarang tinggal caramu menemukannya. Setajam apa mata[hati]mu melihatnya.
Minggu kemaren, aku menemukan 2 orang sobatku menangis terang-terangan dalam waktu yang berbeda. Yang pertama, dia menghempaskan tubuhnya di bangku disebelahku sambil mengusap airmatanya. Kurasa dia baru saja menerima telpon. Ada apa dengan dirinya? Bukankah sebelumnya kami ketawa bareng? Ketika kutanya dia hanya menggeleng dan terus menangis. Menangis tanpa menunduk, tanpa menyembunyikan wajahnya. Ini terjadi di kelas, yang rame dan ribut. Selebihnya aku hanya diam, mungkin dia gag ingin aku tau. Hh,, hal yang paling menyebalkan ketika kita sedang down adalah pertanyaan. Please, jangan nanya! Lalu pas kelas usai kembali aku menanyainya, dan aku mendapat jawaban yang bikin aku ngakak, “Biasalah, anak muda. Haha..” Hmm,, artinya, keadaannya lebih baik. Syukurlah..
Sobatku berikutnya kutemukan menangis di bangku panjang depan kelas, pas persiapan paripurna kemaren. Dia jelas-jelas menangis dan menangis dengan jelas (???). Ketika kubertanya, nggak digubris. Aku membiarkannya sendiri. Yah, mungkin dia butuh. Sekitar 2 jam berselang, kembali kutanya kenapa dia nangis. Maka jawabannya juga sungguh luar biasa, “Dah lama gag nangis. Nyuci mata.. Hehe..” dianya nyengir. Huufftt,, okelah.. Artinya semua baik-baik aja sekarang.. Syukurlah...
Maka aku mengacungkan 4 jempol buat 2 sobatku ini [pinjem 2 jempol tetangga]. Kenapa? Karena aku tak akan sekuat mereka. Aku tak pernah berani meneteskan airmataku didepan khalayak. Maka apabila hal itu terjadi, pastinya dadaku udah mau meledak dan aku tak sanggup lagi menahannya. Yap, mereka adalah orang yang kuat. Tentu saja. Butuh kekuatan besar untuk menunjukkan kelemahan, kesedihan, dan kekalahan kita didepan semua orang. Yaaa, walaupun gag selamanya tangisan itu menunjukkan kelemahan ataupun kekalahanmu. Ya kan?
Lalu bagaimana dengan diriku? Apakah aku orang yang lemah? Oh, tentu saja tidak. Aku orang yang kuat, pastinya. Taukah betapa beratnya menahan semua desakan didadamu, menahan perih di hatimu? Taukah betapa sakitnya ketika harus berbohong pada semua orang mengenai dirimu? “Lani matanya koq merah? Nangis ya?” “Hah? Nggak.. Ini... Apa tadi.. Kelilipan.. Masih merah yah?” Atau ketika di telpon.. “Flu ya Lan? Koq ingusan gini dengernya?” “Oh... Iya.. Cuaca lagi gag bagus disini..” Hhh,, sakit banget rasanya. Dan aku kuat karena berhasil menelannya sendiri.
Beberapa tahun lalu, aku sering dikuatkan oleh seseorang, “Kuatlah Kani. Masa’ gitu aja gag sanggup. Jangan cemen donk. Kuat! Siip?” Haha,, dia emang gag pernah bersikap manis kalo aku sedang down. Jangan harap ada kata-kata: “Sabar yah? Semua pasti ada jalan keluarnya. Aku ngerti kok perasaan kamu!” Haha, yang ada malah, “Yah segitu doank pake nangis! Jadi cewek jangan cengeng donk. Kalo gitu apa bedanya Kani dengan mereka yang di luar sana. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngambek. Jadi cewek jangan lemah! Yang tegar!” Hufftt, aku rindu suara itu walau kadang aku benci mendengarnya. Tapi ya kuakui, it worked!
Lalu seperti apa sebenernya diriku?
Entahlah, aku bingung....

kamar kehidupan, 10 Maret 2012 @ 01:16am

0 comments:

 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea