Monday, October 17, 2011

keSEDERHANAan, APA AKU PUNYA??

Posted by Deslani Khairunnisa' at Monday, October 17, 2011

Bismillah....
Sederhana... Ya, sekarang aku mau menulis dengan sederhana. Ada apa gerangan? Well, walaupun aku juga kagag ngarti seperti apa sebenernya menulis dengan sederhana itu, tapi aku pengen. Jangan ditanya dah, pokoke hari ini temanya sederhana. *maksa banget dah*
Bicara tentang sederhana, jadi laper gua. Hehe, jadi ingat rumah makan Padang-Sederhana. Hahha... Uppss, bukannya tadi aku mau nulis dengan sederhana? Oke, oke.. kuakui, mungkin untuk sekarang ini susah bagiku untuk menjadi sederhana, hmm,, maksudku untuk menulis dengan sederhana. Secara aku adalah satu dari banyaknya orang yang melestarikan majas hiperbola dalam menulis. Hahah,,, guru Bahasa Indonesia gua pasti bangga dah... Bener-bener ilmu yang aplikatif.. Ckckck...
Well, gag tau dari mana datangnya tiba-tiba aja pas dijalan tadi jadi ingat sederhana. Kesederhanaan.. Hm,, kata yang kusuka tapi apa aku punya? Entahlah..
Aku ingat jawaban seseorang beberapa taun lalu ketika aku menanyakan pendapatnya tentang diriku. “Apa pendapat Anda tentang sosok DESLANI KHAIRUN NISAK?” tanyaku. Dia menatapku dengan kening berkerut. Gag tau dia merasa aneh dengan isi pertanyaanku atau malah rangkaian kalimatku yang seperti wawancara kerja. Entahlah..
“He-eh..” aku meyakinkan dirinya sembari membesarkan bola mataku.
“Ehhmm... SEDERHANA!” jawabnya singkat.
“Heh??” aku garuk-garuk kepala. “Trus..???”
“SEDERHANA!” jawabnya mengulang jawaban yang sama.
“Itu doank?” tanyaku kecewa.
“Iya, SEDERHANA. Emang mau jawaban yang gimana?”
“Hmm... Ngga’ sih..”
“Sederhana itu sifat yang susah dicari. Susaaah nyari orang dengan sifat seperti itu. Apalagi di jaman sekarang.” ujarnya berfilosofi.
“Heh? Emang Lanie punya?”
“Tauukk.. O’on banget si jadi orang. Kan tadi udah dibilangin. Kanie tu sederhana!” 
“Hee...” aku cuman cengengesan. Mencoba berpikir darimana datangnya sederhana itu dari diriku. Hmm,, iya iya, betul betul, aku mengangguk-angguk.
“Apaan sih? Lehernya ada pegasnya?” yee.. mentang-mentang anak Fisika. Sekalian aja bilang ada katrolnya dengan beban yang berbanding terbalik dengan isi kepalaku. Huuuhhh...
“Nggak!!” aku kembali berpikir, tapii.... “Eh, o’on.. Lanie tu nanya pendapat Anda tentang DESLANI KHAIRUN NISAK. Maksudnya kepribadian atau apa gitu. Bukan penampilan, papan sandang pangan!” omelku ke mukanya.
“Ya Allah.. Ni orang bego’ apa o’on sih? Siapa juga yang lagi ngebahas papan sandang pangan? Kurang kerjaan banget. Kalo itu mah semua orang juga tau. Tokek aja tau kalo Kanie tu sederhana dalam hal itu. Eh bukan.. Bukan sederhana, tapi disederhanakan! Pakaian kayak gembel, makan ngorek tong sampah, tinggal di kolong jembatan. Bukan rahasia lagi itu mah. Tokek juga tau!” jelasnya panjang selebar-lebarnya.
“Lah? Jadi apanya yang sederhana?” tanyaku mengabaikan ledekannya.
“Otaknya!” jawabnya secepat kilat.
“Iiihh.... Nyebelin..” aku menimpuk tengkuknya dengan buku paket Fisika. Fisika? Owwhh, mual gua..
“Pokoknya sekarang berdasarkan apa yang aku liat, dengar dan rasakan, Kanie tu sederhana. Sederhana ya sederhana!” 
“Hee...” aku termangu. Gua sederhana? Apanya? Mungkin bener kali yang dia bilang tadi, otaknya. Ya, aku punya otak yang sederhana. Gag papa deh. Alhamdulillah..
‘Sederhana adalah ketika tak pernah ngeluh menghadapi persoalan hidup. Sederhana adalah ketika bersyukur atas semua yang diberi. Sederhana adalah ketika tak pernah menuntut lebih. Sederhana adalah ketika orang-orang berlari tapi kita tetap berjalan dengan santai. Sederhana adalah ketika orang-orang berhenti, tapi kita tetap meneruskan langkah. Sederhana adalah menjalani hidup apa adanya, tak banyak harapan, tak banyak tuntutan, tak banyak cincong. Sederhana adalah ketika menjadi diri sendiri. Seperti Kanie..’
[ini adalah isi selembar kertas yang diberikannya kepadaku seusai privat Fisika waktu itu (seperti itu kira-kira bunyinya, aku rada-rada lupa. Mungkin susunan kalimatnya tidak seindah itu, karena dia tak pernah pandai merangkai kata, karena dia juga pribadi yang sederhana-banget ^^)].
        Oiya, percakapan diatas udah dirobah ke versi Bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak bener [sekali-sekali ngecewain guru B.Ind gag papalah ^^]. Karena kenyataannya kami ngobrol dengan Bahasa Minang gag pake kebo, eh kerbau, eh salah.. kabau maksudnya.. Eh, sama aja ya?? *setelah bolak-balik KBBI* Hehehee..
Jadi kesimpulannya, seseorang pernah salah [mungkin] menilaiku dengan menganggapku sebagai sosok yang sederhana. But whatever-lah.. Sekarang aku akan berjuang menjadi sosok sederhana seperti yang didefinisikannya dalam secarik kertas diatas. Mungkin juga dia bener, bahwa dulu aku ‘pernah’ menjadi sosok yang sederhana. Dan sekarang saatnya kembali berjuang, menjadi sosok sederhana. Dimulai dari kalimat pertama, Sederhana adalah ketika tak pernah ngeluh menghadapi persoalan hidup. Well, aku akan berjuang. Tenang aja teman, mungkin aku tak akan bisa buktikan kepadamu. Tapi akan kubuktikan pada diriku sendiri bahwa penilaianmu benar adanya. Bahwa aku, DESLANI KHAIRUN NISAK adalah sosok yang SEDERHANA.
Tapi setelah dipikir-pikir *bisa juga gua mikir dengan otak sederhana ini* mungkin dia salah waktu itu, maksudku dia hanya bener dua dari tiga option. Aku tak pernah tinggal di kolong jembatan toh [orang nyari jembatan aja susah...], tapi soal aku yang berpenampilan seperti gembel dan mengorek-ngorek makanan di tempat sampah itu,,,, dengan berbesar hati harus kuakui,,,,  BENAR adanya... *gubrak*
Jadi, temenku... Kamu cuman bener 67%. Dengan standarisasi pendidikan hari ini yang menerapkan batas lulus adalah 70%, maka dengan berat hati Anda dinyatakan gagal. Silakan belajar lagi buat remedial.. Hahahahaha *ketawa ala pahlawan bertopeng...*

Puswil, 15 oktober 2011 @ 11:21am..

Catatan:
‘Tulisan ini ditulis dalam keadaan kacau sebenernya. Karena emang sampe detik ini aku tak pernah bersikap biasa ketika berbicara tentang dirinya. Walaupun cuman nyinggung dia dikit. Segala hal tentangnya adalah unik dan berharga. Mungkin ini juga alasan aku nulis hari ini. Aku ingin mengabadikan semua hal yang pernah terjadi dulu, yang aku ingat dan membekas. Aku juga gag tau buat apa. Seseorang menyuruhku untuk melupakannya. Well, itu emang inginku. Tapi satu sisi hatiku berbisik, ‘dia terlalu berharga untuk dilupakan’.
Owhh,, disaat seperti ini siapa sih yang nyetel ‘If I let you go’-nya Westlife.. Sekate-kate dah.. Kan?? Mulai lagi dah kebanjiran airmata. Plis, my tears.. Stop.. Yang bener saja nangis disini, di puswil Bo’, rame lagi.. Udah gede.. Malu sama umur.. Oke.. *usap airmata*. Karena kulihat ukhty Daho dan Rini udah berjalan menghampiriku. Okelah hatiku, cuman masalah kecil. Ingat KESEDERHANAAN. Fighting for that. Gag penting juga kali ngelebay gini. Cemen ah lu Lanie... *bentak sang hati menasehatiku*’

0 comments:

 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea