Wednesday, July 06, 2011

Aku Menyerah...

Posted by Deslani Khairunnisa' at Wednesday, July 06, 2011

 Bismillah...

Aku menyerah! Ya, sekali lagi harus aku tegaskan, terutama kepada diriku sendiri. Aku menyerah!! Aku tak lagi mampu menyelesaikan misi ini. Usaha bertahun-tahun tanpa hasil yang tak bisa disebut ‘hasil’ membuatku lelah dan nyaris putus asa. Dan setelah berpikir selama berhari-hari akhirnya keputusan itu didapat, “I give up!” Aku menyerah, tak mampu lagi meneruskan semuanya. 

Misi mulia yang aku rancang dengan tangan dan otakku sendiri akhirnya berakhir akhir tahun ini. Aahh,,, sekarang Desember ya?? Really, I love December so much!! Aku selalu berharap apapun yang aku lakukan adalah ‘sempurna’ dibulan Desember. Tak ada kesalahan disana, tak ada ketimpangan tak ada kata menyerah dibulan Desember, apalagi kata putus asa. Hhhh,,, mungkin tahun ini akan berbeda. Aku telah menyumpalkan dalam otakku bahwa ‘There’s no tears on December! Everyday is fun. There’s only smile and success.’ Dan ya... aku selalu berusaha membuat ‘pikiran’ku itu menjadi nyata. Aku selalu berusaha untuk tidak meneteskan airmata di Desember. Selalu aku mencari-cari alasan untuk tetap tersenyum setiap harinya. Really, I love December! Tapi ya,,, seperti kataku tadi, mungkin Desember kali ini akan berbeda. Karena mungkin aku tak sekuat dulu lagi. Aku tak setegar dulu lagi. Aku makin lemah dan redup...  

Well, mungkin aku terlalu cepat menyerah. Tapi aku pikir inilah langkah terbaik, setidaknya untuk diriku sendiri. Perkataan ibuku beberapa hari lalu menyadarkanku dari ‘kebodohan’ ini. “Sudah saatnya kamu berhenti mikirin orang lain Lanie! Hidup makin keras dan kejam! Tiada guna peduli dengan mereka yang sama sekali tidak peduli dengan dirimu Nak. Ngapain nyiksa diri untuk mereka? Pikirkan diri kamu! Masa depan kamu? Apa yang udah kamu perbuat untuk dirimu? Kenapa mesti sibuk dengan urusan mereka?”

Ini bukan kali pertama ibu ngomong kayak gini. Dia selalu mengingatkanku untuk tidak [lagi] mengantar ibu-ibu tak dikenal yang kesasar-yang aku temui dijalan kerumahnya yang berkilo-kilo meter jauhnya. Dia juga tak jemu mengingatkan untuk jangan [lagi] memberikan seluruh uang didompetku kepada nenek-nenek yang keliling berjualan, kemudian pulang jalan kaki karena aku kehabisan ongkos. Atau menangis sepanjang jalan sehingga aku tak lagi mampu melihat jalan dengan jelas karena aku tak mampu menolong kakek-kakek yang aku temui disebuah rumah makan. Ya, ibu tak pernah lupa mengingatkan anaknya ini. Tapi kalau dipikir-pikir, ibu mengingatkanku untuk menjadi ‘orang kejam’, untuk membatukan hatiku, untuk tak peduli dengan siapapun. Astaghfirullah... Mudah-mudahan pikiranku salah, dan tentu saja aku salah.


          Tapi, sekarang aku akan coba. Mencoba berhenti untuk peduli. Mencoba berpura-pura buta, pura-pura tuli, dan pura-pura bisu. Dan khusus untuk ‘kasus’ ini, aku tak akan pura-pura amnesia.

Allah tahu, aku telah berusaha. Aku telah berjuang. Aku menjerit, marah, berteriak dan menangis. Yang terakhir ini semakin membuktikan kalau aku semakin lemah. Aku hanya akan menangis [dalam beberapa kasus] kalau semuanya udah gak bisa kutahan lagi, hanya kalau aku merasa tak sanggup lagi, hanya kalau aku udah benar-benar putus asa. Dan [masih dalam beberapa kasus] tangisan menyiratkan kekalahanku.

Yaa,, kekecewaan itu sempurna sudah. Kekalahan itu terlihat jelas ketika airmataku hanya mendapat respond “Ya,, mau gimana lagi? Emang udah jalannya seperti ini!” tak ada nada bersalah apalagi prihatin dari nada suaranya. Tanpa beban dia merobek-robek hatiku. Tanpa rasa bersalah dia injak-injak jerih payahku. Perjuanganku [yang awalnya aku pikir mulai berhasil] menguap menjadi debu yang hina. Semuanya sia-sia. Percuma. 
          Well, kembali harus aku tegaskan pada diriku. Semua tlah usai. Berakhir!! Ambil sisi positifnya! Tak kan ada lagi yang akan mengganggu pikiranku. Tak perlu lagi aku bersusah payah mencari puluhan hadith untuk mengingatkan’y akan satu hal. Tak perlu lagi menghabiskan waktuku yang berharga hanya untuk mengetahui perkembangan’y. Toh, tiada arti. Yang ada dia [mungkin] malah menertawakan kebodohanku dari seberang sana. Yang ada dia  [mungkin] malah mencibir ketololanku. Lupakan ini semua! Dan jangan peduli lagi! Yang perlu aku lakuin sekarang hanyalah bersyukur karena aku tidak seperti dia! Alhamdulillah Allah masih membuka hatiku! Alhamdulillah aku masih takut kepadaNya. Alhamdulillah ya Rabb!!

 Well, mulai detik ini takkan ada lagi apapun tentangnya. Dia telah memilih jalannya sendiri. Kegagalan ini mengingatkanku pada satu ayat dalam Al-Qur’an: “barangsiapa yang dikehendaki hatinya tertutup oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk, dan barangsiapa yang dikehendaki beriman oleh Allah maka tidak seorangpun yang mampu menyesatkannya.” 

Aku sangat berharap kalau aku berada digolongan ke-2 dalam ayat tersebut. Dan sekarang aku hanya bisa berda’a semoga Allah membuka hatinya dan menerangi setiap langkahnya. Tapi satu hal, apabila suatu hari nanti dia datang kepadaku membawa berita gembira, mengabarkan kemenangannya menyongsong cahaya tauhid, aku akan tersenyum lebar untuknya karena aku tidak pernah benar-benar menutup pintu hatiku.


Silent night, Dec 03rd @ 02:35am


0 comments:

 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea