Monday, June 20, 2011

Lihatlah betapa zholimnya diri ini...!!

Posted by Deslani Khairunnisa' at Monday, June 20, 2011


Bismillah....
Kuakui aku adalah satu dari banyak orang yang suka ‘ngomel’ didunia ini, tapi aku bukan orang yang suka menyesali keadaan dan berandai-andai. Alhamdulillah aku bukan sosok seperti itu. Aku hanya sering dikecewakan kehidupan. Tapi, Alhamdulillah (lagi) aku adalah pengagum sosok Umar ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu, jadi sedikit banyak berusaha meneladani sikap beliau dalam kehidupan ini (disamping meneladani Rasulullah SAW pasti-insya Allah). Umar ibnul Khattab adalah orang yang selalu mengorek-ngorek hikmah dari setiap keadaan. Mengorek-ngorek?? Koq gawat banget kata-katanya ya?? Ya, karena terkadang beberapa keadaan hampir kita tidak menemukan celah untuk berpositif thingking, dan Umar selalu berusaha menemukan celah tersebut... SubhanAllah,, semoga Allah meridhoi beliau... dan semoga aku tetap bisa meneladani beliau radhiyallahu ‘anhu.. Ameen...
Nah, inilah yang pengen aku ceritakan... Bukan apa-apa... (jujur sejak 2 hari lalu, aku lebih berhati-hati dalam menulis). Ini hanya menjadi pelajaran bagiku... Sebagai pengingat ketika ku lalai, hingga ku kembali kepadaNya dan sebagai pendorong jiwaku bahwa aku pernah suatu hari menjadi ‘orang yang bersyukur’... (kebanyakan sih alasan ku menulis emang buat itu....)
Aku, Deslani Nur Khairunnisa’ (ini ejaan namaku yang sesungguhnya, yang tak akan kau temui di akte kelahiran ataupun disurat-surat atas namaku..^^). Aku adalah seorang gadis biasa, bahkan sangaaat biasa... Kalaulah ada kata yang lebih rendah dari biasa, maka itulah aku... ^^
                Kehidupan yang berat dengan segala tetek bengeknya (alaaaahh....) membuatku sering jatuh bangun (lebih sering jatuhnya sih), terperosok bahkan terpelanting dari jalan yang seharusnya kutempuh... (terpelanting????) Kegagalan dan kekecewaan adalah ‘sahabat’ sejati yang selalu menemani keseharianku.... Hal inilah yang membuatku menjadi pribadi yang ‘terkadang’ suka ngomel dan jarang bersyukur...
                Well, jangan berfikir negatif dulu tentang diriku... Yaa, maksudku aku gag separah itu koq.. Kalau dibilang bersyukur, mungkin aku adalah hambaNya yang sangat bersyukur atas rahmat dan karuniaNya yang dilimpahkan kepadaku. Tapi,, ternyata (baru kusadari) rasa syukurku masih jauh dari cukup (maaakk,, dibawah C, mungkin D atau E..) Dan Alhamdulillah, kejadian minggu kemaren membuatku tersadar dan rasa syukur yang dalam (aku gag bisa menggambarkan kedalamannya) terucap untuk Rabb-ku pemilik semesta alam, yang tak pernah tidur, yang senantiasa mengurus makhlukNya-termasuk diriku yang sangat tidak tau terima kasih ini... Astaghfirullah,, ampuni hamba ya Rabb...

Tepat seminggu lalu, hari Minggu sebelum dzuhur.
Selesai pengajian di mesjid depan rumah *pengen banget cantumin nama mesjidnya^^*. Tamu membludak, aku kewalahan meladenin mereka semua.. Hohoo,, Setelah mengurus para tamu aku memisahkan diri keruang sholat, membalas beberapa smz yang nyasar ke inbox-ku sejak paginya. Tidak jauh dari tempatku duduk, seorang gadis berkerudung lebar duduk di karpet hijau dibelakang para tamu *maklum gag kebagian tempat duduk* Aku tak mengenalnya. Yang kutahu dia datang bersama besan salah seorang uda-ku (nb: Uda=abang). Tadi aku melihatnya sekilas dimesjid, mereka telat.. Owhh, maksudku mereka lebih telat dari aku yang udah telat ini.. hehe... Hmm,, mungkin dia sodaranya besan uda-ku kali ya?? Beberapa kali aku melempar senyum kearahnya.. (aku melempar senyum atau membalas senyumnya?? Entahlah...) tapi tak ada keinginan untuk pedekate.. Hah?? Pedekate?? Dari Hongkong??? Haha, maksudnya berkenalan atau semacamnya, secara dia udah dirumahku gitu... Wait, wait,, dirumahku?? Rumahku??? Rumah aku??? Sejak kapan kamu punya rumah Lanie??? Hahha... Well, sebenernya bukan apa-apa, tapi emang pembawaan aku yang cuek (apalagi ama orang baru), atau terkadang dicuek-cuekin alias jaim.. Jaim?? Udah lama banget aku meng-gudang-kan kata ini.... JAIM,,, follow me!! ^^

“Masih sekolah ya Kak??” kusadari seseorang duduk disampingku. Aku mengalihkan perhatian dari layar hape, membalikkan badan menghadapnya.
“Iyaa,, kuliah siiihh...” jawabku ramah... ^^ “Siapa namanya?” aku balik bertanya...
“M*stri Kak...” jawabnya dengan senyum lebarnya.. (Well, mudah-mudahan namanya bener, sumpah aku rada lupa. Taulah, aku paling sulit ngapalin nama..  ^^)
“Lanie....” balasku sambil mengulurkan tangan. “Sekolah ya??”
“Iya.. Masih satu SMA Kak... Kakak kuliah dimana??”
“UNRI...” jawabku malas... ^^ Sengaja kujawab pendek dan cepat, bener-bener ogah membahas perkuliahan... ^^
“Hmm... Sodaranya Bu’ Iy*n ya??” tanyaku penasaran...
“Ohh,, gag Kak.. Tahu Oma kan??” belum sempat kujawab, dia udah melanjutkan ucapannya. “Nah, Oma punya panti asuhan di K*lim, M*stri salah satunya. Dan sejak Opa meninggal kemaren, M*stri tinggal dengan Oma, nemanin Oma....”
“Ohh,,,” ekspresiku cengok banget... Panti asuhan?? Aku tertarik mengenalnya lebih jauh.... Pedekate lagi ahh... ^^ “Panti?? Ma’af, tapi orangtuanya kemana Dek??”
“Ayah M*stri udah meninggal sejak M*stri SD (kalau gag salah waktu itu dia nyebutin kelasnya, tapi seperti biasa-aku lupa ^^). Ibu M*stri meninggal taun 2005. Jadi sejak itu M*stri dan adek tinggal di panti... bla.. bla... bla...” ceritanya mengalir tanpa kuminta. Entah apa aja yang diceritakannya, hampir-hampir aku tak mendengarnya.
“Oohh,, ma’af ya??” cuman itu responku atas cerita panjangnya... speechless...
“Gag papa Kak..” jawabnya berkaca-kaca....
“Kalau libur pulang??” tanyaku yang masih dihantui keinginan yang amat teramat sangat buat pulang kampung...
“Iya Kak, ke Pasir Pangiraian..” *betul gag ejaannya neh???*
“Dikampung ntar sama siapa??”
“Sama Kakak. Ada 2 orang, tapi mereka udah berkeluarga. Bla bla bla....”

Begitulah, kami tak sempat ngobrol banyak karena dia udah keburu dipanggil istri Uda-ku buat pulang. Tapi mendengar sekelumit tentang kisah hidupnya benar-benar menohok jantungku. Dia meninggalkanku dengan putaran otak yang Alhamdulillah masih sangat waras. Kugunakan akal yang dianugerahkan Allah kepadaku untuk berpikir. Betapa bego’nya diriku yang selalu saja merasa ‘kurang’, selalu menderita dan tersiksa. Aku bahkan pernah berpikir, apa Allah tidak menyelipkan sedikitpun kebahagiaan itu untukku?? Ampuni hambaMu yang jahil ini ya Allah...
                Aku, Deslani Nur Khairunnisa’ masih punya orangtua yang utuh. Masih mendapatkan kasih sayang dan do’a mereka. Masih punya rumah yang selalu kuimpikan (terutama bila libur tiba), terlepas dari bisa tidaknya mengunjungi rumah itu sendiri.. Aku masih punya keluarga yang menyayangiku, yang memperhatikan diri dan kebutuhanku-terlepas dari keterbatasan dan kejanggalan yang kurasakan. Aku, masih punya keluarga tempat aku bercerita, tempat aku mengadu masalahku (meski jaraaaang banget).
Dan ketika beban kehidupan ini terasa sungguh menyesak, aku masih bisa menelepon ibu dan bercerita sedikit (meski amat jarang terjadi). Aku masih punya abah yang tak pernah bosan menceramahiku tentang hidup-terlepas dari panasnya kuping ini mendengarnya. Aku masih punya ibu yang selalu kurindukan dan kuharapkan do’anya... Aku masih keluarga yang Alhamdulillah banget menyayangiku-terlepas dari sifat-sifat jelekku yang kadang merepotkan mereka. Aku kuliah dengan lancar-terlepas dari hantaman demi hantaman dan aral yang melintang dijalanku, difasilitasi dengan sangat baik, didukung-lebih dari cukup kurasa... Lihatlah kehidupanmu Lanie??? Apa lagi yang kamu harapkan?? Apa lagi Lanie??? Apa lagi yang kurang?? Masihkah kau berpikir bahwa hidup ini tidak adil?? Masihkah kau merasa menjadi orang paling menderita didunia?? Masihkah kau mau mati?? Lenyap dari bumi Allah ini???
                Lihatlah Lanie betapa Adil dan Bijaksana Rabb-mu!!! Bisakah kau membayangkan jika kamu adalah gadis itu?? Jika nasibmu seperti gadis itu?? Mungkin kau tak akan mengenal kata sabar yang katamu kau punya. Mungkin kau tak akan tahu arti kata tegar yang katamu sekarang kau miliki. Mungkin hari-harimu hanya dipenuhi tangisan dan ratapan.. Mungkin kau akan kehilangan harapan yang sekarang masih kau simpan didalam dadamu. Mungkin kau akan kehilangan kewarasan yang samapai sekarang masih kau pelihara.. mungkin kau akan jadi gila Lanie.. Atau mungkin juga kau akan jadi sampah.... Ya, sampah....
Astaghfirullah al’adziim....  ampuni hamba ya Allah.. Ampuni hamba...
                Tak bisa kubayangkan ketika aku pulang, tak menemui seorang-pun dirumah.. Tidak ada Abah yang akan menungguku dipersimpangan jalan-menungguku turun dari bus (aku seringnya nyampe rumah malam) atau mondar-mandir dihalaman kalo aku pulang pake travel. Tidak akan ada masakan ibu yang akan menantiku begitu aku nyampe rumah. Tak akan ada tangan-tangan hangat yang akan kucium... Tak akan ada petuah-petuah penuh arti. Tak akan ada raga yang sudi bangun dari tidur lelapnya dimalam yang dingin untuk mendo’akanku... Tak akan ada itu semua... Ya Allah, ampuni hamba yang buta ini... Ampuni hambaMu yang tuli ini... Dan terimakasih telah membuka mata ini, makasih telah membuka telinga ini.... Terima kasih ya Rabb... Hanya Engkau yang Tahu betapa aku bersyukur memiliki mereka semua... Hanya Engkau Tahu betapa  dalam rasa syukur ini.  
Sayup-sayup kumendengar lantunan ayat suci Al-QUr'an dari radio....
fabiayyiaalaa irobbikumaa tukadzdzibaan.....
                                               ?Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan"

SubhanAllahi walhamdulillaahi laailaahaillahuakbar...
Tak henti-hentinya kalimat Allah ini kulantunkan, airmataku udah tak terbendung lagi... Makasih ya Allah.... Terimakasih atas caraMu yang indah untuk membuka hati hamba... Terimakasih atas semua karuniaMu.. Jadikan hamba sebagai hambaMu yang bersyukur... Ameen....

Kamar kehidupan, June 19th 2011 @ 01:13pm                   

Nb: Surah Ar-Rohman, sudah sejak lama menjadi surah favoritku disamping Al-Mulk... tapi entah kenapa baru sadar betapa Allah menyelipkan makna yang dalam dan ‘tajam’ dalam surah ini... Betapa bodohnya diriku....

0 comments:

 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea