Friday, May 20, 2011

Secuil kisah tentang Perjuangan Melupakannya

Posted by Deslani Khairunnisa' at Friday, May 20, 2011

Bismillah...
Sebenarnya sangat tidak ingin mengungkapkan hal ini, tapi ada satu bagian dalam diriku yang selalu dan selalu saja mendorongku untuk mengabadikan setiap tetesan airmata yang entah sudah berapa banyak yang kukorbankan untuk kisah ini. Kisah??? Kisah apaan??? Kisah yang mana?? Hahaha, ingin rasanya menertawakan diriku sendiri, Lanie yang malang, Lanie yang bodoh, Lanie yang sinting, dan Lanie yang entah apa lagi. Bodoh sekali, bego’... Ampuni hamba ya Rabb...
Well, kalau saja aku mampu memahami sedikit lebih wajar perjalanan ini, maka akan kudapati kewarasanku menyadari bahwa kisah ini udah berakhir, udah tamat, the end, all is over.. tapi ternyata tidak, karena ternyata aku masih belum bisa menerima bahwa ini semua udah bener-bener berakhir.

Aku tersentak ketika sang Ustadz tiba-tiba menyebut namanya. Namanya adalah sebuah istilah dalam Islam yang sangat sering dikumandangkan dalam majelis-majelis ilmu, tapi sudah sangat lama aku tidak lagi mendengarnya. Wajahnya terlukis dalam mushaf yang terbuka dipangkuanku. Sayup-sayup aku seperti mendengar suaranya, serak,, selalu seperti sedang batuk, nyaris hilang. Aku terpaku, tubuhku bergetar, dadaku tiba-tiba sakit, sesuatu meronta-ronta dalam hatiku. Perih.. Astaghfirullah... puluhan kali kata itu kulafazkan, ada apa ini ya Rabb..???
Aku menggeser dudukku kebelakang, merapat kedinding mesjid, tanganku mencengkeram kedua lenganku, dan kulipat tubuhku dalam jilbab yang lebar. Lama aku bertafakur dengan diriku sendiri, hanyut dengan perasaan dan pikiran yang tidak bisa aku lukiskan. Semua campur aduk, kacau. “Ma’af, al-Qur’annya nanti terinjak.” Astaghfirullah.. aku gelagapan, ada apa ini? Tiga detik kemudian aku menyadari bahwa dauroh telah usai dan orang-orang udah bersalaman. Kuraih mushafku yang masih terbuka, kukemas catatanku. “Jadi Lanie mau temani Kakak kerumah Ustadzhah?” sebuah suara mengejutkanku. Aku berdiri, seorang wanita dengan jilbab lebar berdiri dihadapanku, tersenyum manis. Cadar menggantung dilehernya. “Oh, Kakak,” ujarku setelah sadar siapa makhluk yang berdiri dihadapanku.
“Lanie... Lanie nangis?? atau Lanie sa...” dengan penuh perhatian dia bertanya.
“Ma’af Kak, kayaknya Lanie gag bisa. Lanie lupa, ada tamu,” cepat aku memotong pertanyaannya. “Ma’af banget ya Kak. Lanie duluan. Mari...” kuraih tangannya, “Assalamu’alaykum.” Aku bergegas keluar, meninggalkannya dengan kebingungan yang jelas tergambar dari raut wajahnya. Kuseka airmataku, sumpah baru sadar ternyata aku nangis.
Siap dzuhur aku mengurung diriku dikamar, melupakan makan siang dan menitipkan pengurusan makan siang nenek ke Bude dengan alasan gag enak badan (padahal sebenernya gag enak hati). Aku tertidur dengan bantal basah oleh airmata. Memalukan!! Jam 2 aku bangun. Sebenernya gag ingin beranjak dari kamarku, tapi aku ingat janji nge-date dengan Ukhty Daho. Es krim goreng. Hahhaa, mungkin ini akan berefek baik untuk mood-ku, apalagi cuaca Pekanbaru yang sangat panas sore ini, es krim adalah pilihan tepat. Tapi nyatanya gag berhasil, ogah-ogahan aku menghabiskan es krim coklat dihadapanku, dan aku harus menerima kenyataan bahwa aku gag sanggup bersikap seperti Lanie yang biasanya. Kubiarkan dia tergeletak dipiringku, menunggu pramusaji datang dan melemparnya ke tong sampah. Ukhty Daho menatapku dengan prihatin, tapi tak bertanya karena aku buru-buru udah mengatakan aku gag enak badan. Afwan ukhty, bukannya ana gag suka jalan dengan ukhty, tapi ana bener-bener kacau kemaren tuh.
Aneh emang. Aku aja heran dengan diriku sendiri. Untuk pertama kalinya aku menyisakan es krim coklat begitu saja. Aku meringis, separah inikah keadaanku ya Allah???
Kupaksakan diriku menunaikan kewajibanku kepada kedua adekku dipondok, belanja dan mendengarkan cerita (baca: keluhan) mereka. Ogah-ogahan aku meladeni mereka, entah apa yang mereka sampaikan. Kuakhiri pembicaraan (lagi-lagi) dengan alasan gag enak badan. I’m sorry...
Dan malam ini, aku gag kuat lagi mengemban luka ini sendirian. Aku ingin membagi perasaanku yang kutahan sejak siang tadi. Bintang-bintang, dengarkan rintihan hatiku...
Biarkan kubertanya, karena aku tak sanggup lagi menjawabnya. Seberapa penting dia dalam hidupku?? Seberapa besar arti namanya bagiku? Separah apa luka yang dia tinggalkan? Berapa lama yang kubutuhkan sampai luka ini kering? Kemana aku harus pergi biar luka ini hilang? Katakan padaku, AKU HARUS BAGAIMANA??? APA (LAGI) YANG HARUS KULAKUKAN??
Aku berusaha tegar, berjuang keras untuk mengabaikannya. Mengabaikan luka ini dan berharap waktu akan membawa perbaikan. Beberapa hari yang lalu, tepat 1 tahun kepergiannya. Sebenernya aku udah wanti-wanti sejak beberapa hari sebelumnya, khawatir ini akan bener-bener menjadi hari terburuk bagiku ditahun ini, seperti tahun sebelumnya. Aku menyingkirkan kalendar dari meja belajarku, berharap aku disorientasi waktu dan ketikaku sadar, ternyata aku telah melewatinya. Tapi apa yang terjadi? Aku terbangun dan tiba-tiba tersentak, ingat hari ini tepat 1 tahun kepergiannya. Sial. Mataku berkaca-kaca tapi segera aku mencari kegiatan, sangat tak ingin airmata ini terjatuh lagi. Dan seperti firasatku sebelumnya, benar itu adalah hari terberat bagiku. Sungguh berat berbohong pada dunia, membohongi diri sendiri dan berpura-pura kuat lagi tabah. Memalukan!!!
Ya Allah, ampuni hamba.. Engkau yang Maha Tahu kerasnya usaha diri ini untuk menjauh dari ini semua, untuk melupakannya. Ampuni hamba ya Allah. Aku tak mau begini terus. Aku capek dihantui perasaanku sendiri, aku lelah bersembunyi dari hatiku sendiri. Aku muak... Beri hamba kekuatan ya Rabb. Dan kumohon, hapus dia dari ingatanku. Jika keberadaan setiap detik dengannya adalah derita bagiku saat ini, silakan Kau hapus ingatan itu. Mungkin lebih baik aku hilang ingatan akan dirinya. Tak mengapa ya Allah... hamba juga tak ingin terus begini. Aku ingin tenang. Melanjutkan hidupku dengan normal, tanpa bayang-bayang penyesalan masa lalu.


                   Kamar kehidupan, May 08th 2011 @ 22:45

0 comments:

 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea