Tuesday, March 22, 2011

Mengenal Syaikhul Islam_Ibnu Taimiyah

Posted by Deslani Khairunnisa' at Tuesday, March 22, 2011

Bismillah...

Dialah imam besar dan seorang pakar yang memiliki kemampuan tinggi tentang agama ini. Dia termasuk seorang pembaharu, orang yang zuhud, ahli ibadah dan orang alim yang mengamalkan ilmunya.
Nama lengkapnya Ahmad bin Abdussalam bin Taimiyah Al Harrani. Dilahirkan pada 666H dan wafat pada 728H. Ia dilahirkan dalam keluarga yang komitmen menjalankan agama, keluarga yang bertakwa, ahli ibadah da zuhud, yang mengharap ridha Allah dan kampung akhirat.
Sejak usia 8 tahun, ia sudah menempelkan wajahnya ke tanah ketika fajar tiba dan berdo’a: “Wahai Dzat yang mengajari Ibrahim, ajarilah aku! Wahai Dzat yang memberikan pemahaman kepada Sulaiman, berilah aku pemahaman!” Maka Allah mengajarinya, memberinya pemahaman dan ilmu yang tidak seperti pemahaman atau ilmu-ilmu yang lain. Dengan ilmu dan pemahaman ia bisa menembus masa kurang lebih 7 abad, sehingga menjadi seorang pembaharu selama ratusan tahun.
Dr.Aidh Adbullah Al Qarni mengungkapkan bahwa Ibnu Taimiyah memiliki 5 keahlian dalam bidang dakwah:
1. Ikhlash, kesetiaan, nasihat dan tujuan hanya demi mengharap wajah Allah SWT, yaitu menginginkan negeri akhirat dan apa saja yang ada disisi-Nya. Ia selalu dan selamanya menasihati orang lain agar memperhatikan sabda Rasulullah SAW, “Tiga hal yang hati seorang muslim tidak pernah ada kedengkian padanya: mengikhlaskan amal perbuatan karena mengharap wajah Allah, menasihati penguasa, dan komitmen dengan persatuan kaum muslimin, karena sesungguhnya doa mereka meliputi dari arah belakang mereka.” [HR.Ahmad, 5/183; dikomentari oleh Al-Bukhari dalam Ash-Shahih serta di-shahih-kan oleh Al- Albani dalam Al Misykat, no 229]
Dia pernah berkata, “Sebagian orang fanatik terhadap hawa nafsu, madhzab, kelompok atau golongan dan menjadikannya sebagai tujuan dakwahnya. Ini jelas salah, karena tujuan dakwah ialah Allah, bukan golongan, kelompok atau pendapat yang mengajak kepadanya.”
Ia juga berkata, “Barangsiapa menghendaki kedudukan, hendaknya ia mengetahui bahwa ia tidak bisa mencapai kedudukan yang lebih tinggi dari Fir’aun. Tetapi dimana Fir’aun? Ditampakkan kepadanya neraka pagi dan petang.”
2. Mengamalkan ilmunya dan bertakwa kepada Rabb-nya.
Contoh pengamalan Ibnu Taimiyah terhadap ilmu:
Zuhud. Diceritakan bahwa suatu ketika ia berjalan disalah satu gang dikota Damaskus, lalu seorang pengemis lewat dihadapannya. Ia lalu mencari-cari sesuatu dikantong bajunya, tapi tidak mendapatkan apa-apa baik dirham maupun dinar, maka ia bersembunyi dibalik pagar. Kemudian ia melepas pakaiannya bagian atas dan memberikannya kepada pengemis itu. Penulis kitab Al A’lam Al Aliyyah mengatakan bahwa, “Dunia mendatanginya (emas, perak, kuda, budak dan lainnya). Maka ia menginfakkannya seketika itu juga dan tidak memasukkannya kerumah meskipun satu dirham.
Keberanian.
3. Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
4. Benar dalam berlindung [kepada Allah] dan yakin akan kekuatan tawakal.
Ia berkata, “Seandainya aku tidak berdzikir kepada Allah, niscaya kekuatanku akan lemah.”

Adz-Dzahabi menyebutkan tentang Ibnu Taimiyah bahwa kedua mata beliau seolah-olah seperti dua lisan yang berbicara karena banyak dzikir.
Murid-murid Ibnu Taimiyah berkata, “Kamu melihat lisan Anda tidak pernah diam dari berdzikir kepada Allah.” Ia menjawab, “Hatiku seperti ikan. Apabila keluar dari air, maka ia akan mati. Begitu juga apabila hatiku aku tinggalkan dari berdzikir, maka ia akan mati.”

Ibnu Qayyim berkata tentang Ibnu Taimiyah, “Aku melihatnya dipenjara –dalam keadaan sujud- menangis dan berdoa, ‘Ya Allah, tolonglah diriku untuk berdzikir, bersyukur dan memperbaiki ibadah kepad-Mu!’ Ia terus-menerus mengulangi doanya.”
Karena itu Ibnu Rajab berkata, “Salah satu faktor penyebab yang memelihara dan melindungi Ibnu Taimiyah dari makar para musuh ialah banyak berdzikir dan wirid yang tidak pernah lepas darinya.”

5. Pengetahuannya yang sangat luas tentang kondisi zaman dan fenomena umat.
Sebagian orang yang hidup di zaman sekarang seolah-olah hidup di abad ke-3, tetapi Ibnu Taimiyah hidup di abad ke-7 dan mengetahui berbagai kesulitan, tuntutan zaman dan apa yang diinginkan oleh anak-anak di zaman tersebut. Karena itu, ia mengetahui Al-Qur’an dan As-Sunnah serta agama ini, kemudian ia datang kepada manusia dan berbicara berdasarkan keduanya tentang kebutuhan zaman.

Dalam perjalan hidupnya, Ibnu Taimiyah diuji Allah dengan berbagai kesulitan, diantaranya:
Dukungan para penguasa bagi musuh-musuhnya.
Keberanian dan kesungguhannya yang kebanyakan orang yang hampir mau menolongnya merasa rugi karenanya.
Banyaknya musuh dan front yang ia hadapai: Syi’ah, Asya’ariyah, Yahudi, Nasrani, Sufi, orang-orang taklid, para penguasa dan lain sebagainya.
Tahanan dan penjara, tetapi hal itu tidak membuatnya jera, justru ia semakin kuat dan keras.
Ia dijilid (dipukul/dicambuk), dituduh dan kehormatannya diperbincangkan disetiap majelis.
Tetapi pada akhirnya kesuksesan yang tiada banding bisa diraih oleh Ibnu Taimiyah dalam dunia dakwah, dan berakhir hingga terjadi kesepakatan diantara hati orang-orang yang bertauhid dari umat ini bahwa ia adalah orang yang paling hebat di zamannya.
Kitab-kitabnya tetap hidup selama berabad-abad, manghidupkan hati para mujtahid dan orang-orang yang beramal untuk (kejayaan) Islam, supaya mereka bisa memunculkan kembali kejayaan tersebut.

Referensi: Dr.Aidh Abdullah Al-Qarni.(2005). Wajah yang Memancarkan Cahaya. Jakarta: Pustaka Azzam.

Kamar kehidupan, March 12th 2011 @10:14pm

0 comments:

 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea