Thursday, February 24, 2011

Mengenal Malaikat Jibril

Posted by Deslani Khairunnisa' at Thursday, February 24, 2011 0 comments Links to this post

Bismillah...

Malaikat Jibril adalah malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu dan malaikat pembawa rezeki. Malaikat Jibril adalah satu dari tiga malaikat yang namanya disebut dalam Al Quran. Nama Malaikat Jibril disebut dua kali dalam Al Quran yaitu pada surat Al Baqarah ayat 97-98 dan At Tahrim ayat 4. Didalam Al Qur’an, Jibril memiliki beberapa julukan, seperti Ruh al Amin dan Ruh al Qudus (Roh Kudus), Ar-Ruh Al-Amin dan lainnya. Beginilah bentuk fisik malaikat Jibril :
Bentuk fisik Ruhul’qudus, ada tertera dalam uraian mengenai kisah nabi Muhammad kala beliau mendapat wahyu kali ke dua dan nabi menuntut untuk bertemu atau melihat rupa asli sang utusan tuhan dari langit dalam rupa yang asli atau bagaimana sesungguhnya dzat wujud Jibril tanpa rupa samar sebagaimana di berkali-kali sang utusan (ruhul’qudus) selalu nampak dalam rupa seorang manusia biasa.
Ruhul’Qudus tampak wujudnya dengan enam ratus sayap antara masyrik dan maghrib, (barat-timur) sayap dan busana kebesarannya putih laksana mutiara yang larut, dengan rupa yang begitu elok dan rupawan, dan dengan kekuatan yang dahsyat penuh mukzijat.

Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.

Wujud para malaikat telah dijabarkan didalam Al Qur’an ada yang memiliki sayap sebanyak 2, 3 dan 4. surah Faathir 35:1 yang berbunyi:
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Faathir 35:1)”

Kemudian dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Jibril memiliki 600 sayap, Israfil memiliki 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril dan yang terakhir dikatakan bahwa Hamalat al-’Arsy memiliki 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil.

Wujud malaikat mustahil dapat dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia tercipta dari unsur dasar tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk tidak akan mampu melihat wujud dari malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya, bahkan Muhammad sendiri pun disebutkan secara jelas hanya mampu melihat wujud asli dari malaikat Jibril sebanyak dua kali.

Dikatakan bahwa Muhammad telah melihat wujud asli dari Malaikat Jibril yang memiliki sayap sebanyak 600 sayap.
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (An-Najm 53:13)”

Dalam kisah suci perjalanan Isra’ Mi’raj, sesampainya di pos perjalanan Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Rasulullah untuk terus naik menghadap kehadirat Allah SWT;
Jibril berkata : “Aku sama sekali tidak mampu mendekati Allah, perlu 60.000 tahun lagi aku harus terbang. Itulah jarak antara aku dan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus juga ke atas, aku pasti hancur luluh”.
Maha Suci Allah, ternyata Malaikat Mulia Jibril AS pun tidak sampai kepada Allah SWT.

Monday, February 14, 2011

Jeritan Wanita

Posted by Deslani Khairunnisa' at Monday, February 14, 2011 0 comments Links to this post

Inilah sebuah kisah ketika suatu teriakan seorang muslimah mampu membangkitkan ghirah sepasukan tentara muslim untuk mengembalikannya pada posisi dan kehormatan semula.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam tentang peristiwa ini, bahwa seorang wanita Arab pergi ke bani Qainuqa’ dengan membawa sebuah barang yang hendak di jual di pasar itu. Kemudian ia duduk di sana, di sebelah tukang sepuh. Mereka mengingingkan darinya agar dia mau membuka wajahnya dan ia menolak. Seketika si tukang sepuh langsung mengikatkan ujung pakaian wanita muslimah tadi dengan punggungnya. Sehingga ketika si wanita muslimah berdiri, terbukalah auratnya. Mereka pun tertawa girang dan menjeritlah wanita itu. Mengetahui hal ini dengan cepat seorang muslim mendekat dan membunuh tukang sepuh itu (rupanya dia seorang Yahudi). Adegan berikutnya, teman-teman si Yahudi balas mengeroyok dan membunuh si pemuda muslim. Maka bangkitlah emosi kaum muslimin dan terjadilah ketegangan yang menyulut peperangan dengan bani Qainuqa’ (Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam 2/47).
Rasulullah menyiapkan pasukan untuk memberi pelajar kepada mereka dan berakhir dengan pengusiran bani Qainuqa dari Madinah.
Sebuah teriakan yang dikumandangkan oleh seorang wanita dapat membuka sekian telinga, sekian jantung yang masih berdetak, yang di dalamnya mengalir darah menyatu dengan ghirah dan wibawanya. Jeritan yang membangkitkan para rijal (lelaki) sejati. Tertanamlah dalam jiwa kaum muslimin pembelaan terhadap kehormatan.
Sejak detik itu, wanita terpelihara kehormatannya, didengarkan jeritannya. Setiap mereka merasa bahwa wanita adalah kehormatan, walaupun tiada hubungan dengannya kecuali jalinan aqidah Islam.
Mu’tashim (salah seorang khalifah Daulah Abasiyah), ketika mendengar seorang wanita dianiaya dan dihina kehormatannya menjerit “Wa Mu’tashima” (tolonglah, hai Mu’tashim), tersentaklah hatinya oleh rintihan itu, bergolak darah di jantungnya. Ia mulai menyiapkan perlengkapan dan mengirim pasukan dari istana kekhalifahan menuju tempat teriakan bergema itu untuk memberi pelajaran kepada musuh dan mengembalikan eksistensi dan kehormatan wanita itu. Mu’tashim dan pasukannya baru kembali setelah berhasil menuntaskan semuanya.
Namun sekarang, berapa banyak jeritan yang menggema dan membentur dinding-dinding bisu pemerintahan atau menghilang begitu saja. Jeritan muslimah kita di berbagai belahan dunia ini menggema tanpa ada yang peduli. Sungguh telah mati terkubur kejayaan generasi pertama, telah tiada generasi Mu’tashim dan hilang pula semangat dan wibawa Mu’tashim.
Jeritan wanita muslimah tidak lagi bergema, tidak ada ghirah (semangat) yang tersentak, darah yang begolak. Seandainya jeritan-jeritan itu membentur dinding gunung, pastilah ia tergetar. Namun ternyata ia hanya memanggil para lelaki yang hati mereka telah membatu, bahkan lebih keras. Tersembunyi kejantanan mereka, tiada mereka tunjukkan nyali mereka kecuali kepada saudara sendiri. Innalillahi wa inna ilaihi rajiu’un. (hdn)

Oleh: Abdul Hamid Jasim Al Bilali dalam Waqafat Tarbawiyyah Fii Assiratin Nabawiyah

My heart is under-contruction

Posted by Deslani Khairunnisa' at Monday, February 14, 2011 0 comments Links to this post


Bismillah....

Kemaren lewat Sudirman, macet banget. Ternyata ada perbaikan jalan. Aku tertegun ketika melihat ada spanduk yang sedang dikibarkan oleh seorang pekerja, UNDER CONTRUCTION, cuma kata itu yang berhasil kutangkap.. Masya Allah, apa bedanya dengan hatiku saat ini???? Aku meninggalkan Sudirman melaju menyusuri lorong-lorong hatiku.

Aku selalu menjaga hatiku dengan baik, telaten dan sangat spesial. Hati adalah hal yang paling kujaga sejak dulu. Aku senantiasa menundukkannya, istilahku-menakhlukkan hati sendiri. Takkan kubiarkan dia lepas kendali dan menjadi liar. Takkan mencari peluang yang bisa membuat hatiku sakit atau terluka. Tak kuizinkan penyakit apapun bersemai disana. Aku menjaganya dengan sangat hati-hati. Dan tak pernah bermain-main dengannya. Karena hatiku bersih dan suci.. Itulah [setidaknya] penilaianku tentang hatiku [dulu]..

Aku ingat beberapa hari yang lalu mendapatkan sebuah quote berharga dari sebuah film yang tak sengaja kudengar, “Jangan menyimpan masalah dalam hati, karena hati untuk menyimpan yang lain!” Tentu saja, hati untuk menyimpan yang lain. Dan aku menafsirkan ‘yang lain’ itu dengan cinta. Ya, hati untuk menyimpan cinta. Dimana lagi cinta akan disimpan jika tidak didalam hati?? Diumbar dilidah?? Dibiaskan pada mata?? Diekspresikan dengan tindakan?? Tidak, aku tak menganggap itu cinta.. Cinta adalah sesuatu yang suci dan terjaga. Bahkan lisan dan mata tak akan sanggup bicara atas namanya.. Hanya hatilah yang sanggup menampungnya... Menjaganya agar tetap mulia dan tak ternoda...

Kembali kehatiku, ‘sebuah’ cinta menghampiri menawarkan surga. Dan hatiku yang masih kosong senantiasa membuka. Menyambut cinta dengan segala kemuliaannya. Menerimanya dengan semua rasa yang mengiringinya. Dan aku tak mampu menolak, karena hatiku telah memilihnya... Dengan semua kegalauan yang mengiringinya aku ‘pasrah’, mungkin emang cinta yang ‘ini’ yang ditakdirkan untuk mengisi hatiku. Aku terima sambil terus menjaga hatiku yang sudah dihuni oleh cinta. Penjagaan ini tentu lebih berat dan hebat. Karena dihatiku sekarang ada harta yang paling berharga-cinta...

Itulah awal kisah cintaku. Aku tak mau menyebutnya cinta pertama. Karena bagiku cinta itu cuma satu. Dia tumbuh dan berkembang diluar dugaan. Mengiringi langkah kakiku, mengalir dalam pembuluh darahku, memenuhi otakku, ada dalam tiap helaan nafasku, dan menghangatkan hatiku. Ya, cuma dia yang satu dan tak akan berakhir...

Hariku terasa lebih bermakna dengan hadirnya cinta. Setiap kata yang terlontar adalah do’a. Semua hal yang kulakukan adalah usaha. Ya, semua jadi lebih bermakna. Awalnya kupikir akan susah mengurus cinta, bukankah hati yang kosong saja sudah begitu sulit menjaganya? Tapi ternyata tidak. Karena cinta tidak menuntut apa-apa. Dia tak mengharap balasan. Dan dia tidak meminta bayaran.

Tak ada yang lebih aku syukuri dari kehadirannya. Merasa bahwa inilah ‘cinta’ yang tepat yang diperuntukkan untuk mengisi hatiku. Cinta kirimanNya sebagai hadiah penjagaanku yang luar biasa untuk hatiku. Ya, cinta yang mulia untuk hati yang terjaga... Alangkah indahnya...

Sekarang tibalah saatnya menyampaikan berita duka. Sang cinta yang kuyakini akan selalu mengisi relung hatiku ternyata juga tak mampu bertahan lebih lama saat Sang Pemilik Cinta memanggilnya... Ya, cinta pergi.. Meninggalkan hatiku... Hancurlah semuanya. Semua mimpi yang kubangun atas namanya hancur luluh. Semua asa yang pernah terlintas, menguap entah kemana.. Lalu tinggallah aku dengan hati yang terluka.. Akhirnya merasakan juga yang namanya ‘patah hati’. Tapi baru kusadari ternyata hatiku tak sekedar patah, melainkan udah hancur berkeping-keping.. Luluh lantak, tak berbentuk lagi.. Hanya tinggal puing sisa kejayaan cinta...

Waktu terus bergulir membuatku sadar kalau kepergian cinta bukan untuk diratapi. Aku tak mau menghancurkan hatiku lebih parah lagi. Biarlah kini kuberjuang, mengumpulkan puing hatiku yang udah hancur. Mengambil serpihan hati yang telah patah. Kembali membangunnya, berjuang memperbaikinya... Biarlah kini aku menata kembali hatiku... mencoba kembali menghiasinya, dan kembali menjaganya-seperti dulu..

Ya, menjaga hati setelah ditinggal cinta... Aku yakin aku bisa. Bukankah akan sama seperti dulu? Saat cinta belum datang dan hatiku masih terjaga, belum terjamah.. Ya, semua akan kembali seperti semula.. Menjaga hati, menunggu hadirnya cinta kembali. Cinta yang benar-benar untukku. Cinta yang emang ditakdirkan untuk mengisi hatiku.. Tapi bukan sekarang, mungkin setahun lagi, atau dua tahun, atau sepuluh tahun?? Entahlah, akupun tak pasti kapan hatiku akan siap menerima kehadiran cinta. Yang jelas sekarang hatiku belum bisa diisi, belum bisa dimasuki. Karena masih UNDER-CONTRUCTION.


Kamar kehidupan, Feb 12, 2011 @ 04:19pm


Sajak-qoe: Kutolak Cinta-katamu

Posted by Deslani Khairunnisa' at Monday, February 14, 2011 0 comments Links to this post

Bismillah...

Kau datang padaku dengan beralasan ‘cinta’-katamu...
Menghampiriku dengan magnet ‘cinta’-katamu...
Memandangku dengan tatapan penuh ‘cinta’-katamu...
Kata yang terlontar dari lisanmu sarat makna ‘cinta’-katamu...
Semua karena ‘cinta’-katamu....

Disini, aku duduk termangu...
Memikirkan kamu yang penuh cinta-katamu...
Waktu mengantarku pada satu pertanyaan...
‘Cinta’-katamu yang mana wahai akhy???
Yang seperti apa???

Aku tak menjumpainya mengiringi kedatanganmu...
Aku tak menemukannya dalam tatapanmu...
Aku tak menangkapnya keluar dari lisanmu....
Makhluk bernama cinta-katamu itu,
Tidak aku dapati....

Wahai akhy....
Biarkan aku yang bisu ini sedikit bersajak...
Bahwa aku yang buta ternyata tak mampu melihat ‘cinta’ yang kau suguhkan...
Bahwa aku yang tuli ternyata tak mampu mendengar syair ‘cinta’mu...
Aku bahkan tak tahu seperti apa ‘cinta’-katamu itu....

Wahai akhy....
Izinkan aku mengungkapkan isi hatiku....
Biar kau sadar diri dan memperbaiki ‘cinta’-katamu itu....

Bahwa aku tak mengenal cinta selain ‘cinta’ Rabb-ku....
Bahwa tak ada yang mampu men’cinta’iku sehebat Rabb-ku....
Bahwa semua ‘cinta’-katamu yang ada padamu, takkan berarti apa-apa bagiku....

Wahai akhy....
Biarkan aku ber’cinta’ hanya dengan Rabb-ku...
Jangan kau usik ‘cinta’ kami....
Jangan kau ganggu hubungan kami...

Karena aku yang lemah mungkin saja terperdaya....
Jika ‘cinta’-katamu sedikit membawa rasa...
Aku yang bodoh sangat mungkin terpesona,,
jika ‘cinta’-katamu mulai menyilaukan mata...

Biarkan aku hanya men’cinta’ denganNya..
sampai tiba saatnya Dia mengirimkan seseorang yang juga dicintaiNya...
Bila waktu itu tiba,
aku akan membuka hatiku dan juga pasti mencintainya...
bukan untukku, bukan untuknya...
tapi untuk Dia yang kucinta...

Sekarang menjauhlah,, perbaiki cintamu....


                Kamar kehidupan, Feb 11th 2011 @ 03:55pm

Monday, February 07, 2011

Mus'ab bin Umair r.a, pemuda luar biasa...

Posted by Deslani Khairunnisa' at Monday, February 07, 2011 0 comments Links to this post


Menjadi seorang pemuda tampan, kaya raya dengan asesoris serba mahal, parfum paling semerbak dan banyak memiliki fans adalah impian hampir semua anak zaman sekarang. Sahabat Nabi SAW yang satu ini demikianlah halnya. Sebelum masuk islam dia adalah pujaan hati semua wanita di kota Mekkah dan impian hati para orang tua untuk menjadi mertuanya. Dibesarkan oleh keluarga yang kaya raya dan diperlakukan dengan istimewa. Mengenakan pakaian seharga 200 dirham sudah sering ia dapatkan.
            Namanya Mus’ab bin Umair r.a, telah masuk islam dari awal tapi tidak diketahui oleh orang tuanya. Ketika orang tuanya mengetahui maka ia mendapatkan perlakuan yang kasar dan diikat didalam rumah supaya tidak kabur. Ketika ada seruan untuk hijrah ke Habsyah ia mendapat kesempatan meloloskan diri lalu ikut hijrah ke Habsyah bersama Ja’far bin Abi Thalib r.a dan rombongan yang lain. Sekembalinya dari Habsyah Rasulullah SAW menyuruh Mus’ab bin Umair r.a sebagai duta pertama yang mendakwahkan Islam di kota Yatsrib. Di Madinah ia mendapatkan sambutan yang baik dan ia mendapat Sahabat Muaz bin Jabal r.a sebagai saudaranya.
            Pada suatu hari Rasulullah SAW dan para sahabat sedang membuat suatu majelis, kemudian berlalu dihadapan mereka seseorang dengan pakaian yang banyak bertambal. Bahkan ada bagian baju yang sobek dan ditembel dengan kulit hewan. Tak terasa air mata Rasulullah SAW yang mulia menetes. Masih segar diingatan mereka bahwa itu adalah pemuda dari keluarga kaya raya. Hidup tidak pernah kekurangan apalagi kesusahan. Makan dari menu yang lezat dan terjamin harganya. Senantiasa menjadi buah bibir di lisan wanita wanita kota Mekkah. Kini Islam telah merenggut assesoris dunia penuh kemewahan yang pernah disandang. Mus’ab bin Umair lebih memilih duduk bersama majelis Rasulullah SAW, kadang kepanasan kadang kehujanan dari pada duduk di rumah megahnya di Mekkah dengan dikelilingi makanan enak, musik mengalun dan dilayani budak budak pilihan. Ia lebih nikmat dengan perut yang sering keroncongan karena jarang makan tapi khusyu’ beribadah di masjid bersama Nabi SAW. Malam malam yang biasanya dilalui dengan berkumpul bersama kaum kerabat sambil bercanda ria kini dilalui dengan linangan airmata di sujudnya dengan dzikir dan doa yang panjang. Mus’ab bin Umair r.a sesungguhnya telah meretas jalan yang dulu pernah dilalui para Nabi Allah. Bila perjalanan ke akhirat ibarat sebuah gerbong kereta api maka hanya dengan menumpang kereta api itu kita akan sampai distasiun yang dituju. Sekalipun kita ada di gerbong yang terakhir atau hanya bergelayutan di pegangan pintu maka kita yakin bahwa kita akan sampai di stasiun yang kita tuju. Tapi meskipun kita ada digerbong mewah dan serba nyaman kalau kita menggunakan kereta yang lain maka kita tidak akan pernah sampai di stasiun yang sebenarnya.
            Ketika panggilan jihad Uhud dikumandangkan Mus’ab bin Umair termasuk dalam barisan yang pertama. Bahkan Ia mendapat kehormatan sebagai pemegang utama bendera Islam. Ketika pasukan Islam terdesak dan ada sebagian yang mundur maka Mus’ab bin Umair r.a tetap kokoh memegang panji Islam dengan erat sambil berdiri tak goyang dari tempatnya. Musuh musuh pun makin gencar melakukan serangan apalagi setelah pasukan Khalid bin Walid (waktu itu belum masuk Islam) berhasil menguasi bukit tempat pasukan panah melakukan serangan. Pasukan Islam banyak yang lepas dari koordinasi, tidak rapi seperti awalnya. Saat itu seorang musuh mengayunkan pedangnya dan memutus tangan kanan Mus’ab bin umair r.a. Mus’ab sempoyongan dan berhasil bangkit memegang panji dengan tangan kirinya. Musuh melakukan serangan lagi dan berhasil memutus tangan kiri Mus’ab. Ia terjatuh bersimbah darah tapi masih hidup. Seluruh kekuatannya dikumpulkan lagi dan berhasil memegang kembali panji islam didepan dadanya dibantu dengan sisa kedua tangan yang telah terpotong. Tak berselang lama sebuah anak panah menembus dadanya dan robohlah ia sebagai syuhada. Seorang sahabat Nabi SAW yang lain datang dan merebut kembali Panji Islam dari jasad Mus’ab bin umair r.a.
            Disaat saat pemakamannya, beliau hanya memiliki sehelai kain yang tidak cukup menutupi jasadnya. Bila kepalanya ditutupi maka kakinya akan terbuka dan bila kakinya ditutupi maka kepalanya akan terbuka. Rasulullah SAW mendekati dan bersabda,
“Selimutkanlah kepalanya dengan kain itu dan tutupilah kakinya dengan daun-daun Azkhar.”
            Inilah sebuah akhir kegemilangan seorang pemuda dalam menegakkan Panji Islam. Dia memang telah kehilangan kemewahan dan gemerlapnya dunia, tapi ia mendapat ganti yang jauh lebih baik, yakni syurga. Perjalanan dari pemuda yang kaya raya dan berakhir dengan hanya mempunyai pakaian yang tidak cukup menutupi jasadnya.. Subhanallah.. Yaa Allah berilah kami kekuatan untuk mencintai dan meneladani orang orang besar seperti mereka.. Ameen.... 




Sumber: kisahislami.com


 

Journal of an unbeatable stubborn dreamer... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea